Pantai Cemara di Cidaun, Cianjur Selatan, bukan sekadar destinasi wisata dengan deretan pohon kelapa dan cemara yang meneduhkan. Bagi 67 mahasiswa Program Studi Teknologi Pertambangan, PEP Bandung, pesisir ini adalah "buku besar" yang menyimpan rahasia kekayaan bumi pertiwi, khususnya pasir besi. Minggu (10/05/2026), di bawah bimbingan tiga orang dosen, Dr. Ernowo, Dr. Rizka, dan Dr. Yudi, para mahasiswa turun ke lapangan untuk mempelajari bagaimana alam bekerja membentuk endapan mineral berharga.
Fokus utama mereka adalah memahami Genesa Bahan Galian, atau asal-usul terbentuknya bahan tambang. Di pantai ini, alam melakukan proses luar biasanya, ombak laut dan angin bertindak sebagai "mesin pemilah" alami. Selama ribuan tahun, mereka memisahkan butiran pasir dengan mineral berat yang mengandung besi. Hasilnya adalah hamparan pasir hitam yang kaya akan magnetit, bahan baku utama industri baja.
Untuk menguak apa yang ada di balik permukaan pasir, mahasiswa menggunakan hand auger. Alat bor manual ini diputar masuk ke dalam tanah, memungkinkan mereka melihat lapisan pasir hingga kedalaman tertentu. Ibarat melihat lapisan kue lapis, mereka bisa mengetahui seberapa tebal dan seberapa kaya kandungan besi yang tersembunyi di bawah kaki mereka.
Selain melihat fisik pasirnya, mahasiswa juga menerapkan metode geokimia yang lebih mendalam. Melalui metode ini, mereka mengambil sampel air dan sedimen untuk melihat komposisi mineral yang terkandung di dalamnya. Mereka belajar cara mendeteksi unsur-unsur mineral yang terlarut dalam air maupun yang terikat dalam butiran sedimen. Hal ini sangat krusial, karena analisis geokimia dapat menunjukkan apakah air di sekitar pantai memiliki kandungan mineral yang unik atau apakah terdapat unsur-unsur tertentu yang dapat memengaruhi ekosistem.
Mempelajari genesa bahan galian adalah upaya mahasiswa untuk membaca naskah kuno yang ditulis oleh alam selama jutaan tahun. Memahami asal-usul suatu endapan bukan sekadar soal mencari letak kekayaan, melainkan sebuah bentuk penghormatan terhadap proses panjang penciptaan bumi. Hanya dengan mengenali bagaimana alam memberi, kita dapat mengambil dengan cara yang paling bertanggung jawab dan bermartabat. (YR)



