Kalimantan Timur – Penelitian mahasiswa Politeknik Energi dan Pertambangan (PEP) Bandung berhasil memberikan solusi penting dalam upaya mengurangi dampak getaran tanah akibat aktivitas peledakan di tambang batu bara. Penelitian yang dilakukan oleh Xevarel Nevaldo Rayva Nugroho bersama dosen pembimbing Rochsyid Anggara dan Suparno ini berfokus pada praktik kerja industri di PT Riung Mitra Lestari, Jobsite Energi Batu Hitam, Kalimantan Timur.
Dalam kajian yang dilakukan, peneliti menemukan bahwa getaran tanah akibat peledakan di lokasi tambang melebihi ambang batas yang ditetapkan. Berdasarkan pengukuran, getaran di gudang bahan peledak yang berjarak 250 meter dari lokasi peledakan mencapai 21,68 mm/s, sedangkan di area permukiman warga dengan jarak 326 meter mencapai 7,168 mm/s. Kedua angka tersebut melampaui batas aman maksimal 4 mm/s yang ditetapkan perusahaan.
Melalui metode Scaled Distance dan Peak Vector Sum (PVS) menggunakan pendekatan dari United States Bureau of Mines (USBM), penelitian ini menghasilkan rekomendasi batas muatan bahan peledak yang lebih aman. Untuk area rumah warga, ditetapkan muatan maksimal 41,3 kg per lubang, sedangkan untuk area gudang handak direkomendasikan 25,7 kg per lubang. Dengan desain peledakan baru ini, nilai getaran diprediksi dapat ditekan hingga di bawah 4 mm/s.
Penelitian ini tidak hanya memberikan rekomendasi teknis, tetapi juga menegaskan pentingnya penerapan standar keselamatan dalam kegiatan pertambangan. Hasil kajian Xevarel Nevaldo Rayva Nugroho di PT Riung Mitra Lestari membuktikan bahwa optimasi muatan peledak mampu menekan risiko terhadap infrastruktur sekitar tambang sekaligus mendukung operasional yang lebih berkelanjutan.



