WhatsApp

Hi!

Menciptakan tenaga ahli yang unggul di bidang energi dan pertambangan melalui pendidikan vokasi yang terarah dan aplikatif

Information

Follow Us

Berita & Pembaruan

Mahasiswa Teknologi Geologi PEP Bandung Pelajari Sistem Hidrotermal melalui Praktik Lapangan Geologi Bijih Primer

24 September 2026

Dalam memperkuat pemahaman mengenai proses geologi dan mineralisasi hidrotermal, mahasiswa Program Studi Teknologi Geologi PEP Bandung angkatan 2025 kelas Reguler dan PGA mengikuti Praktikum Lapangan Mata Kuliah Geologi Bijih Primer di kawasan Kawah Ciwidey, Kabupaten Bandung yang termasuk dalam kompleks panas bumi Patuha. Kawah Ciwidey ini merupakan lokasi penelitian Dosen Teknologi Geologi pada tahun 2021 yang selanjutnya dimanfaatkan menjadi obyek pembelajaran di lapangan.

Melalui pengamatan terhadap manifestasi panas bumi dan proses hidrotermal yang masih berlangsung, mahasiswa dapat memahami prinsip geologi “The Present is the Key to the Past”, yaitu proses geologi yang berlangsung saat ini dapat menjadi kunci untuk memahami proses pembentukan endapan mineral pada skala waktu geologi masa lalu.

Kegiatan ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengamati secara langsung karakteristik geologi, menyaksikan aktivitas hidrotermal yang sedang berlangsung, serta alterasi dan mineralisasi hasil aktivitas hidrotermal tersebut. Praktik lapangan dibimbing oleh dosen pengampu Ir. Sabtanto Joko Suprapto, M.T., IPU dan Dr. Ir. Benny Bensaman, M.T. serta didukung oleh Putri Rindu Bunga Kasih, A.Md. selaku fasilitator praktikum, Imam Muttaqien, S.T. selaku asisten dosen dan Elsha Riani selaku tenaga kependidikan (tendik). 

Selama kegiatan, mahasiswa melakukan pengamatan pada dua lokasi dengan jarak antar Lokasi sekitar 50 meter yang memiliki manifestasi hidrotermal. Selain mengidentifikasi batuan, alterasi, dan mineralisasi, mahasiswa juga melakukan pengukuran parameter fisik-kimia mata air panas, meliputi pH, temperatur dan Total Dissolved Solids (TDS). Hasil pengukuran lokasi pertama menunjukkan mata air memiliki kondisi relatif asam dengan pH berkisar 0,13 dan temperatur sekitar 83°C, dan nilai TDS menunjukkan sekitar 483 ppm. Sedangkan di lokasi kedua diperoleh pH berkisar 2 dengan temperatur 90°C dan TDS mata air sekitar 200 ppm. Terdapat perbedaan signifikan nilai pH pada lokasi kedua dibandingkan dengan nilai pH hasil pengukuran pada saat praktik lapangan tahun lalu, yaitu pH sebesar 7 – 8.

Pada kedua lokasi pengamatan, mahasiswa menemukan berbagai karakteristik alterasi dan mineralisasi hasil aktivitas hidrotermal, di antaranya alterasi silika dengan tekstur vuggy silica, sinter silika, alterasi lempung, endapan sulfur, lempung berwarna hitam hasil endapan rawa mengandung material organik dan mineral pirit serta fragmen-fragmen hasil letusan freatik. Berbagai temuan tersebut menjadi bahan pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami hubungan antara sifat kimia dan fisika hidrotermal dengan alterasi dan mineralisasi emas yang dihasilkan.

Kegiatan ditutup dengan presentasi hasil pengamatan dari kedua lokasi oleh masing-masing kelompok. Melalui praktik lapangan ini, mahasiswa tidak hanya memperdalam pemahaman teori Geologi Bijih Primer, tetapi juga mengembangkan kemampuan dalam melakukan observasi lapangan, identifikasi alterasi dan mineralisasi, pengukuran parameter fluida hidrotermal serta interpretasi kondisi geologi berdasarkan data yang ditemukan di lapangan.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran vokasi di PEP Bandung, dalam membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, khususnya pada eksplorasi bijih primer. (FH)