Perkembangan teknologi di industri pertambangan tanah air memang terus melaju cepat, mulai dari digitalisasi hingga pemanfaatan kecerdasan buatan di lapangan. Namun secanggih apa pun alat dan sistem yang digunakan, semua itu tidak akan banyak berarti tanpa tenaga kerja yang siap mengoperasikannya. Hal inilah yang menjadi benang merah dalam sesi Fireside Chat bertema Workforce Readiness for Contractor Operations, yang membahas kesiapan sumber daya manusia di sektor operasional kontraktor pertambangan.
Sesi diskusi santai ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. mont. Imelda Eva Roturena Hutabarat, S.T., M.T., selaku Direktur Politeknik Energi dan Pertambangan (PEP) Bandung, dan Wanda Adinugraha, Widyaiswara Ahli Madya dari PPSDM Geominerba. Diskusi ini dipandu oleh Agus Sukarji dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian ESDM.
Dalam sambutannya, Agus menyampaikan bahwa era industri 4.0 yang ditandai dengan digitalisasi dan elektrifikasi memang sudah masuk ke berbagai kegiatan tambang. Meski begitu, teknologi hanya akan berjalan maksimal jika didukung oleh manusia yang kompeten di belakangnya. Karena itu, kontraktor, lembaga pelatihan, dan berbagai pemangku kepentingan perlu bekerja sama menyiapkan tenaga kerja yang mampu menjawab tuntutan operasional pertambangan yang semakin menantang.
PEP Bandung Siapkan Lulusan yang Siap Kerja
Direktur PEP Bandung menjelaskan bahwa PEP Bandung merupakan lembaga pendidikan vokasi jenjang diploma tiga di bawah Kementerian ESDM yang berdiri sejak tahun 2019. Kampus ini memiliki tiga program studi, yakni pertambangan, geologi eksplorasi, dan metalurgi ekstraktif, yang semuanya dirancang untuk mendukung kebutuhan sumber daya manusia di sektor energi dan sumber daya mineral, termasuk program hilirisasi dan transisi energi.
Menurut Direktur PEP Bandung, keunggulan PEP Bandung terletak pada metode pembelajaran yang menekankan praktik langsung. Mahasiswa mempelajari konsep dasar pada semester pertama, kemudian mulai memperbanyak praktikum dan kunjungan lapangan pada semester berikutnya. Sekitar tujuh puluh persen dari keseluruhan kurikulum berupa praktik, praktikum, dan ekskursi ke industri. Puncaknya, pada semester lima dan enam mahasiswa menjalani magang di berbagai perusahaan tambang di seluruh Indonesia.
Selama magang, mahasiswa tidak hanya mempelajari budaya kerja dan teknologi terbaru, tetapi juga mengerjakan proyek proyek perbaikan yang memberi manfaat bagi perusahaan, misalnya peningkatan efisiensi dan penurunan downtime. Setiap lulusan PEP Bandung juga dibekali sertifikasi kompetensi berstandar BNSP, minimal dua sertifikat, bahkan bisa lebih tergantung prestasi masing masing mahasiswa, termasuk sertifikasi bidang teknologi terbaru seperti pengoperasian drone.
Soal hasil, Direktur PEP Bandung menyebut tingkat serapan lulusan PEP Bandung ke industri pertambangan tergolong tinggi. Angka tertinggi tercatat pada lulusan tahun 2022 yang mencapai 99 persen, sementara lulusan tahun keempat berada di angka 74 persen dan seluruhnya sudah berkarier di sektor pertambangan.
Kampus ini juga membuka program Beasiswa Lingkar Tambang bagi perusahaan yang berlokasi di daerah terpencil. Melalui program ini, calon mahasiswa dari wilayah sekitar tambang bisa menempuh pendidikan selama dua tahun di kampus, kemudian kembali magang selama satu tahun ke perusahaan asal untuk selanjutnya berpeluang langsung direkrut.
Kesenjangan Kompetensi Masih Jadi Tantangan Utama
Sementara itu, Wanda Adinugraha memaparkan bahwa daya saing kontraktor pertambangan selama ini sering hanya dikaitkan dengan efisiensi biaya dan ketersediaan alat. Padahal, faktor manusia adalah penentu apakah investasi tersebut benar benar menghasilkan kinerja yang diharapkan.
Wanda menyoroti tiga tantangan sumber daya manusia yang menurutnya paling relevan di sektor kontraktor pertambangan saat ini. Pertama, kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki pekerja dengan kompetensi yang benar benar dibutuhkan di lapangan. Ia menjelaskan bahwa mengikuti pelatihan dan memiliki sertifikat saja belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas atau penurunan angka kesalahan operasi.
Kedua, perlunya perubahan cara pandang terhadap investasi sumber daya manusia. Menurut Wanda, pertanyaan yang lebih relevan bukan lagi seberapa besar biaya pelatihan, melainkan seberapa besar nilai yang dihasilkan setelah tenaga kerja menjadi lebih kompeten. Jika peningkatan kompetensi mampu menekan kesalahan operasi, meningkatkan utilisasi alat, memperkuat aspek keselamatan, dan mengurangi downtime, maka pelatihan sejatinya adalah investasi, bukan sekadar biaya operasional.
Ketiga, akselerasi tenaga kerja lokal yang menurutnya memiliki potensi besar namun masih menghadapi kesenjangan dalam hal pengalaman lapangan dan eksposur terhadap teknologi baru. Untuk mengatasi hal ini, Wanda menawarkan tiga strategi, yaitu menyelaraskan standar kompetensi kerja seperti SKKNI dengan kebutuhan riil di lapangan, memperkuat pendidikan vokasi sejak dini melalui kurikulum dan magang yang relevan, serta membangun proses pengembangan kompetensi yang berkelanjutan mulai dari pemetaan kompetensi, pelatihan, pengukuran dampak, hingga peningkatan keterampilan lanjutan seiring perubahan teknologi.
Kolaborasi Pendidikan dan Industri Jadi Kunci
Menjawab pertanyaan moderator mengenai bagaimana meyakinkan perusahaan kontraktor bahwa lulusan PEP Bandung layak menjadi prioritas rekrutmen, Direktur PEP Bandung menegaskan bahwa kampusnya memperbarui kurikulum setiap empat tahun berdasarkan kebutuhan riil di lapangan. Pengalaman magang yang menghasilkan proyek perbaikan nyata bagi perusahaan turut membangun rekam jejak positif di mata industri selama tujuh tahun terakhir. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kelengkapan sarana dan prasarana laboratorium, sehingga apa yang dipelajari mahasiswa di kampus dapat langsung diterapkan saat bekerja di lapangan.
Diskusi ini menegaskan bahwa investasi teknologi di sektor pertambangan perlu berjalan seiring dengan investasi pada manusia. Kolaborasi antara lembaga pendidikan vokasi, lembaga pelatihan, dan perusahaan kontraktor menjadi kunci untuk memastikan tenaga kerja pertambangan Indonesia, baik operator, mekanik, teknisi, maupun supervisor, benar benar siap menghadapi operasional yang semakin produktif, aman, dan berbasis teknologi. (CT)



