Semangat inovasi dan kolaborasi dengan industri kembali ditunjukkan oleh alumni Program Studi Teknologi Metalurgi Politeknik Energi dan Pertambangan (PEP) Bandung. Melalui tugas akhirnya, alumni Aloysius Gonzaga Djarot berhasil merancang dan membangun alat simulasi unit electrorefining berbasis Internet of Things (IoT) sebagai solusi untuk menganalisis penyebab kerusakan heater pada proses pemurnian emas di PT Aneka Tambang Tbk UBPP Logam Mulia.
Inovasi ini dikembangkan untuk menjawab tantangan industri, yaitu tingginya frekuensi kerusakan elemen pemanas (heater) pada proses High Speed Gold Electrorefining (HSGE). Karena pengujian langsung pada fasilitas produksi memiliki risiko tinggi terhadap proses operasional, mahasiswa merancang sebuah unit simulasi skala laboratorium yang mampu mereplikasi kondisi kerja sebenarnya secara aman dan terukur.
Alat yang dikembangkan mengintegrasikan sistem pemanas, sensor, mikrokontroler NodeMCU ESP8266, serta platform Blynk sehingga kondisi heater dapat dipantau secara real-time melalui perangkat seluler. Sistem ini memungkinkan pengguna mendeteksi perubahan kondisi heater secara cepat sekaligus merekam data pengujian secara digital.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa kerusakan heater disebabkan oleh fenomena overheating ketika permukaan elemen pemanas tidak lagi terendam larutan elektrolit akibat penurunan level cairan di bawah batas aman. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi penyusunan prosedur operasional yang lebih baik serta peluang penerapan sistem pemantauan berbasis IoT di lingkungan industri.
Keberhasilan pengembangan alat simulasi ini menunjukkan bahwa tugas akhir mahasiswa PEP Bandung tidak hanya berorientasi pada penyelesaian akademik, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang memberikan solusi terhadap tantangan industri. Melalui penerapan teknologi digital pada proses metalurgi, karya ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan sistem pemantauan yang lebih andal, meningkatkan efisiensi operasional serta mendukung budaya inovasi di sektor pertambangan dan metalurgi nasional.
Inovasi tersebut sekaligus mempertegas komitmen Program Studi Teknologi Metalurgi PEP Bandung dalam mencetak lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, memiliki kemampuan problem solving, serta mampu menghasilkan karya terapan yang memberikan nilai tambah bagi dunia industri. (A)



