Pada hari Rabu tanggal 20 Mei 2026 pukul 08.30 – 11.00 WIB bertempat di Ruangan 4.2 Geominerba, telah dilaksanakan Kuliah Umum Program Studi Teknologi Metalurgi PEP Bandung dengan tema “Pembuatan Feronikel Dari Nikel Bijih Nikel Laterit Melalui Reduksi Dengan Gas NH3.”
Acara dibuka oleh Master of Ceremony (MC) Dava Rizky Mustofa, yang menyampaikan susunan acara. Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Program Studi Teknologi Metalurgi Rudiyansah, S.T., M.T., kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars PEP Bandung.
Setelah itu, acara dilanjutkan ke sesi utama yaitu pemaparan materi oleh narasumber Ir. Fakhreza Abdul, S.T., M.T., Ph.D. selaku Dosen Teknik Material dan Metalurgi Institut Teknologi Sepuluh November, dimana dalam rangkaian acara ini dipandu oleh moderator, Nadya Puspitasari.
Dalam pemaparannya, Beliau menjelaskan mengenai kondisi industri feronikel yang masih menghasilkan emisi karbon tinggi akibat penggunaan batu bara sebagai reduktor utama. Selain itu, meningkatnya produksi nikel di Indonesia juga menyebabkan kekhawatiran terhadap penurunan cadangan nikel di masa mendatang sehingga diperlukan teknologi pengolahan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Selain itu, narasumber menjelaskan penelitiannya yang menawarkan penggunaan gas NH₃ sebagai reduktor alternatif untuk membantu proses dekarbonisasi
Dan penelitian keduanya CO2 Capture menggunakan slag. Selanjutnya, narasumber memaparkan penggunaan gas NH₃ (amonia) sebagai alternatif reduktor dalam proses reduksi bijih nikel laterit. Dijelaskan bahwa NH₃ pada temperatur tinggi akan terurai menjadi hidrogen (H₂) dan nitrogen (N₂), dimana gas hidrogen berperan dalam mereduksi oksida logam seperti Fe₂O₃ dan NiO menjadi logam Fe dan Ni.
Selanjutnya, Narasumber juga menjelaskan metode penelitian yang dilakukan dengan variasi temperatur, waktu reduksi serta penambahan Na₂SO₄ sebagai aditif. Berdasarkan hasil eksperimen, temperatur tinggi meningkatkan tingkat reduksi, sedangkan penambahan 15% Na₂SO₄ menghasilkan kondisi terbaik karena mampu meningkatkan pembentukan ferronikel serta membantu pemisahan logam dan terak.
Pada sesi berikutnya, dibahas penerapan machine learning untuk memprediksi tingkat reduksi berdasarkan berbagai parameter proses. Model Random Forest Regressor (RFR) menunjukkan performa terbaik, dengan temperatur dan waktu reduksi menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap hasil reduksi.
Narasumber juga menyoroti beberapa tantangan dalam penelitian ini, seperti potensi pembentukan gas NOx, penerapan proses pada skala industri, kebutuhan kontrol temperatur yang baik serta pengolahan bijih laterit berkadar rendah yang membutuhkan energi besar.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab (Q&A) yang berlangsung dengan sangat interaktif. Para mahasiswa terlihat antusias dalam berdiskusi dan mengajukan pertanyaan terkait topik yang disampaikan.
Kegiatan berlangsung dengan tertib dan lancar, lanjut diakhiri dengan pemberian plakat dan sertifikat kepada narasumber oleh Ir. Fahny Adrian, S.T., M.T., lPP. selaku dosen Program Studi Teknologi Metalurgi serta foto bersama antara narasumber dan peserta kuliah umum. (RMP)



