Pada Sabtu, 08 Oktober 2022, pk. 08.00 - 11.30 wib, telah dilaksakan zoominar tentang batubara, yang dihadiri total sekitar 70 orang peserta, Webinar ini dilaksanakan dalam rangka konsultasi dengan ahli dari kegiatan penelitian singkapan batubara di Sukabumi Jawa Barat, dari UPPM PEP Bandung yang dilaksanakan oleh tim dari Prodi Teknologi Geologi (PTG). Penelitian itu juga sebanyak 13 orang mahasiswa PTG Angkatan 2021. Seminar online yang dilaksanakan dengan kepanitian oleh para mahasiswa Prodi TG tersebut menghadirkan dua orang narasumber ahli batubara. Pertama, Prof. Dr. Ir, Ahmad Helman Hamdani, M.Si, Guru Besar UNPAD membawakan topik “Batubara: Tipologi Lingkungan Pengendapan, Masa Kini, dan Pemanfaatan ke Depan”. Kedua, Muhammad Tressna Gandapradana, dari PT. Bukit Asam (PTBA) dengan topik “Coal Downstreaming and It’s Implication on Upstreaming Characterization”.
Acara webinar ini dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Direktur PEP Bandung sendiri, Dr. Asep Rohman, S.T., M.T., yang mengapresiasi dan mendorong dilaksanakannya kegiatan tersebut. Hadir pula pada acara webinar ini para pejabat PEP Bandung, yaitu: Ketua Senat, Wadir I), para KaProdi, Ketua UPPM, dan lainnya. Acara ini juga dihadiri oleh R.P. Koesoemadinata, Profesor Emeritus ITB (Prof. RPK), beberapa praktisi/pelaku bidang geologi dan pertambangan, dan para mahsiswa PEP Bandung, UNPAD, dan beberapa lainnya. Acara yang dibuka oleh MC, Mutya Ibrahim dan dimoderatori oleh Aisha Permatasari, mahasiswa PTG 2021, berlangsung sampai 3,5 jam, dan jika tidak dihentikan oleh ketua panitia, bisa berlangsung sampai tengah hari.
Narasumber pertama menyampaikan tentang kualitas batubara yang sebenarnya tergantung pada pemanfaatannya. Namun, secara umum, lapisan batubara ekonomis adalah batubata yang memiliki penyebaran luas, tebal, rendah abu dan rendah sulpur. Lingkungan pengendapan batubara secara garis besar dapat dibedakan menjadi sistem pengendapan: paparan alluvium, paparan delta, dan marin. Sedangkan pemanfaatan masa kini meliputi (untuk): sumber energi pembangkit listrik, sumber gas, coal trading, sumber energi smelter, dan briket. Adapun pemanfaatan batubara masa depan meliputi aplikasi mikroba asal limbah ternak untuk rekayasa produksi gas metan batubara; dan studi pemanfaatan batubara sebagai material anoda baterai ion litium (LIB) dan ion natrium (NIB); serta produksi etanol berbasis batubara kalori rendah dengan rekayasa gasifikasi-fermentasi.
ementara itu, menurut narasumber kedua, hilirasi adalah suatu strategi untuk meningkatkan nilai tambah suatu komoditas dengan tujuan mendorong nilai jualnya sehingga memperkuat struktur industri, penyediaan lapangan pekerjaan, dan peningkatan peluang usaha. Hilirisasi juga berperan untuk meminimalisir penurunan harga komoditas. Dasar hukum hilirasi sangat kuat, yaitu UU Nomor 3 Tahun 2020 (Perubahan UU Nomor 4 Tahun 2009). Ia juga menyampaikan bahwa analisis kualitas batubara yang meliputi analisis sifat fisika dan kimia dari mempengaruhi potensi kegunaannya. Kualitas itu ditentukan berdasarkan: maseral, mineral matter penyusun, ash, volatile matter, moisture, dan derajat coalification. Sementara batubara yang di tambang dapat digunakan untuk pembuatan: 1) coal power plant (batubara yang digunakan dalam pembangkit listrik), 2) briket batubara, 3) pembuatan kokas, 4) coal upgrading, 5) coal slurry /
coal water mixture, 6) gasifikasi batubara, dan 7) coal liquefaction.
Pada sesi diskusi dan tanya jawab, banyak pertanyaan dari para peserta mahsiswa dan praktisi. Diskusi cukup berbobot berkenaan dengan hilirasisi dan juga masa depan pemanfaatan batubara. Kedua narasumber berpendapat bahwa batubara masih tetap akan dimanfaatkan dan menjadi sumber energi yang penting hingga tahun 2060-an. Bahkana narasumber kedua optimis, batubara ke depan tetap akan berperan penting sebagai sumber energi asalkan diiringi dengan teknologi dan manajemen pemanfaatan sehingga potensi polusi udara karenanya dapat ditekan.
Butir penting lainnya dari diskusi adalah komentar dari Prof. RPK yang menyebutkan memang di Pulau Jawa ini langka dijumpai batubara, dan singkapan yang terdapat di Sukabumi ini sangat penting dari segi keilmuan. Selanjutnya, ia menambahkan bahwa studi tentang geologi batubara haruslah mengenal betul lingkungan pengendapan dan fasies batubara yang dipelajari bukan saja dari ilmu geologi batubara, melainkan melibatkan semua bidang ilmu geologi. Kesimpulan paling penting dari zoominar ini adalah bahwa para narasumber sangat mendukung atas rencana menjadikan lokasi temuan singkapan batubara di Sukabumi ini sebagai lokasi kunjungan/kuliah/ praktikum lapangan batubara sebagaimana tujuan dari penelitian tersebut.



