Sebagai tindak lanjut implementasi penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara dengan Foreign, Commonwealth and Development Office (FCDO) dari Kerajaan Inggris Raya dan Irlandia Utara, Indonesia diundang untuk menghadiri Pertemuan Tahunan Ke-21 Intergovernmental Forum (IGF) On Mining, Minerals, Metals And Sustainable Development yang berlangsung di Palais des Nations Jenewa, Swiss dari tanggal 3-5 November 2025 dan pada tanggal 6 – 7 November 2025 dilanjutkan dengan diskusi dan dialog dengan tim program Manajemen Mineral Kritis untuk Keberlanjutan (MAKMUR).
Pertemuan Tahunan ke-21 IGF on Mining, Minerals, Metals and Sustainable Development (IGF) diselenggarakan selama tiga hari, yaitu pada tanggal 3–5 November 2025 bertempat di Palais des Nations, Jenewa, Swiss dan Side Event yang berlangsung tanggal 6-7 November 2025 di Hotel Royal Jenewa Swiss. Forum ini merupakan ajang tahunan yang diorganisir oleh IGF bekerja sama dengan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) dan International Institute for Sustainable Development (IISD). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian diskusi internasional menjelang pelaksanaan Conference of the Parties (COP) ke-30 UNFCCC yang akan diadakan di Brasil pada November tahun 2025.
Pertemuan ini dihadiri oleh lebih dari 300 peserta yang mewakili 85 negara anggota IGF, serta berbagai organisasi internasional, lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa, sektor swasta, akademisi dan lembaga masyarakat sipil. Selain itu, turut hadir pula perwakilan dari lembaga keuangan internasional, organisasi penelitian dan asosiasi industri yang aktif dalam pengelolaan mineral berkelanjutan.
Pada Pertemuan Tahunan IGF ini, Delegrasi Republik Indonesia (Delri) dihadiri dari beberapa Kementerian dan Lembaga. Dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) dihadiri oleh Direktur Politeknik Energi dan Pertambangan (PEP) Bandung Imelda Eva Roturena Hutabarat dan Subkoordinator Kerja Sama Wilayah Afrika serta Timur Tengah Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Aries Kusumawanto. Selain itu dari Kementerian dan Lembaga lain yang menghadiri berasal dari Direktur Sumber Daya Energi, Mineral dan Pertambangan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (PPN/Bappenas) Togu Pardede, Asisten Deputi Pengembangan Minyak dan Gas Bumi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Ekon) Marcia Tamba, Wakil Direktur Industri Hilir Mineral dan Batu Bara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Kadek Ade Sawitri dan Kepala Divisi Program dan Kerja Sama Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Muhammad Mukhlis Afriyanto serta Perwakilan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bern, Swiss.
Tema dalam Pertemuan Tahunan yang ke-21 IGF tahun 2025 adalah “Value Beyond Extraction: Rethinking Mining for a Resilient Future” yang berarti Nilai Di Atas Proses Ekstraksi: Menata Ulang Pertambangan untuk Masa Depan yang Tangguh. Tema ini mencerminkan komitmen global untuk meninjau kembali cara pandang terhadap “nilai” dalam industri pertambangan, tidak hanya semata-mata nilai ekonomi dari ekstraksi mineral, tetapi juga nilai sosial, lingkungan dan kelembagaan yang dihasilkan dari tata kelola pertambangan yang bertanggung jawab.
Bagi Indonesia, keterlibatan dalam forum IGF menjadi sangat relevan mengingat peran strategis sektor mineral dalam mendukung pembangunan nasional dan agenda transisi energi. Melalui partisipasi aktif dalam rangkaian pertemuan ini, Pemerintah Indonesia berkesempatan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam kerja sama internasional, memperoleh pembelajaran dari praktik terbaik global serta mempromosikan kebijakan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah mineral yang telah menjadi prioritas nasional. Kegiatan ini juga menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk berkontribusi pada diskursus global mengenai pertambangan berkelanjutan dan tata kelola sumber daya yang adil.
Republik Indonesia melalui kerjasama bilateral dengan Kerajaan Inggris Raya dan Irlandia Utara melalui program MAKMUR bertujuan untuk memperkuat tata kelola sektor mineral kritis seperti nikel, kobalt dan litium yang menjadi tulang punggung dalam transisi energi menuju energi bersih global. Sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia, Indonesia memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memastikan pengelolaan sumber daya mineral ini dilakukan secara inklusif dan berkelanjutan.
#pepbandung #mineral #nikel #cobalt #lithium #metalurgi #teknologi metalurgi #pep #bandung #sudirman623 #imeldahutabarat #hilirisasi #pnt #peningkatan_nilai_tambah



