WhatsApp

Hi!

Menciptakan tenaga ahli yang unggul di bidang energi dan pertambangan melalui pendidikan vokasi yang terarah dan aplikatif

Information

Follow Us

Berita & Pembaruan

Bantarujeg Sekeping Taman Bumi Di Tanah Majalengka

21 Mei 2024

Pada 20-21 Mei 2024, kami Prodi Teknologi Geologi (TG) PEP Bandung, berkunjung lagi ke kawasan Ci Lutung dan Ci Jurey di Kecamatan Bantarujeg, Majalengka. Ya, tentu saja kali ini kami datang bersama para mahasiswa TG Angkatan 2023 (TG23) PEP Bandung. Sebab, kuliah lapangan (kulap) gabungan yang biasa dilaksanakan di Bantarujeg itu dari MK Petrologi,  MK Geologi Struktur, dan MK Stratigrafi yang diajarkan pada Semester ke-3 atau Tahun ke-2. Kulap kali ini diikuti oleh semua mahasiswa TG23 (43 orang) dengan pembimbing dosen (6 orang), fasilitator (1 orang), dan tenaga pendidik (1 orang) dari PEP Bandung. Selama di sana, kami menginap di rumah yang sudah biasa melayani keperluan kulap dari berbagai perguruan tinggi di Kampung Cikidang, Desa Cikidang. Dua rumah untuk para mahasiswa, satu rumah lain untuk para mahasiswi, dan satu rumah lainnya untuk para dosen/pembimbing; berjarak sekitar 300 meter dari jembatan Ci Lutung, akses masuk ke desa tersebut.  

Hari pertama, kulap dimulai di Ci Lutung. Lokasi pengamatan pertama ini membentang sepanjang kurang lebih 300 meter mulai dari kl. 50 meter sebelah kiri jembatan ke arah hulu hingga tikungan tajam sungai. Sesampainya di lokasi, para mahasiswa diberi pengarahan kembali tentang orisentasi lapangangan dan apa yang harus diamati, dideskripsi, dicatat, dan didokumentasikan. Selanjutnya, mereka dilepas untuk praktek sendiri, terutama tentang petrologi, geologi struktur, dan stratigrafi. Sesekali diselang diskusi dengan para dosen.  

Hari kedua, praktek measured section (MS) di Ci Jurei yang hasilnya nanti berupa profil stratigrafi itu. Diawali dengan pengamatan jejak batuan gunungapi (lava) yang berada di bawah jembatan. Kemudian praktek MS dimulai (start) persis dari bawah jembatan ke arah hulu (untuk empat kelompok) dan ke arah hilir (untuk empat kelompok lainnya), sejauh sekitar 250-300 meter. Di sinilah praktek pengukuran yang mencatat rinci jenis batuan lapisan per lapisan, ketebalan, jurus dan kemiringan, dan kandungan/sifat (properties) batuan, struktur sedimen, dan struktur geologi, dilakukan. Hari ketiga, sebelum pulang kembali ke kampus PEP di Bandung, diisi dengan presentasi oleh para mahasiswa tentang hasil praktek lapangan di siang dan pengolahan hasilnya di malam hari, bertempat di ruang depan salah satu tempat kami menginap.  

Dari kulap selama tiga hari dan diskusi di sela-selanya, banyak yang kami peroleh. Dari pengamatan, sebagaimana juga banyak dilaporkan kulap-kulap dari berbagai perguruang tinggi, kawasan Bantarujeg menyimpan keragaman bumi yang luar biasa. Perselingan batupasir, batulempung dan serpih, terkadang konglomerat hingga breksi gunungapi, dengan posisi miring landai sampai tegak – yang menandakan deformasi kuat - di beberapa titik, menjadi ciri khas endapan yang dijumpai di kedua sungai yang membelah kawasan Bantarujeg tersebut. Di kalangan para geologiwan, batuan yang ada di sana dikenal sebagai Formasi Halang. 

Kehadiran batuan gunungapi dan batuan sedimen yang bersumber dari batuan vulkanik (volcanogenic sedimentary rocks/VSC) dan struktur geologi selain selang-seling perlapisan batuan sedimen klastik, menjadi ciri formasi batuan di Bantarujeg. VSC sendiri dapat menjadi penghasil migas yang luar biasa seperti terjadi pada Formasi Jatibarang, di sebelah utara Bantarujeg yang sudah sangat dikenal sebagai formasi tempat sumur-sumur migas produktif. Dan memang, banyak tulisan hasil penelitian tentang kemungkinan Formasi Halang sebagai sumber migas.

Seorang pemerhati yang juga geologiwan menulis tentang kawasan ini sebagai “Taman Bermain Struktur Geologi di Bantarujeg, Majalengka”.  Kami membuktikannya di lapangan, hal itu benar, sebagaimana terdapat di Ci Lutung dan Ci Jureg. Berbagai teori pembentukan struktur geologi perlipatan dan pensesaran dapat diuji (dipraktekan) di lapangan atas berbagai fenomena struktur geologi yang dijumpai dengan nyata dan dapat diraba, apalagi diamati, di lokasi tersebut. Semua itu, sangatlah berguna untuk pendidikan, juga untuk wisata dan ekonomi setempat (sebagai contoh, berkembangnya homestay untuk para peserta kulap), sebagaimana telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir ini. Karena semua itu, pantaslah jika Bantarujeg ini disebut sebagai “Sekeping Taman Bumi di Tanah Majalengka.*** (penulis: Oman Abdurahman).