Unik dan menantang. Demikian kesan seketika sesaat setelah mendengarkan penjelasan dari senior geologist (SG) dari PT. Cikondang Kancana Prima (CKP), pak Lodih Basari. Beliau menjelaskan tipe mineralisasi logam berharga, diantaranya emas, di kawasan eksplorasi Cikondang, Cianjur. Penjelasan itu disampaikan di depan kami, para dosen dan mahasiswa prodi T. Geologi Angkatan 2022 (TG22), Politeknik Energi dan Pertambangan (PEP) Bandung, yang mengunjungi wilayah bagian barat laut Cianjur tersebut, Kamis 6 Juni 2024.
Kunjungan itu adalah pelaksanaan dari mata kuliah (MK) Geologi Bijih Primer dan masih satu rangkaian dengan pelaksanaan kuliah lapangan MK Pemetaan Geologi Bahan Galian yang dilaksanakan beberapa hari sebelumnya di kampus lapangan Geominerba, Cipatat, Bandung Barat. Kuliah lapangan ini diikuti oleh 26 mahasiswa TG22 beserta 7 dosen dan satu orang tenaga pendidikan sebagai pendamping dari Prodi T. Geologi, PEP Bandung; dan dilakukan dalam satu hari. Rombongan berangkat dari kampus PEP Bandung pk 05.30 wib dan sampai ke kawasan tambang Cikondang pada sekitar 10.00 wib. Setibanya, kami langsung diterima dengan ramah di ruang pertemuan kantor PT. CKP dan diberi penjelasan di seputar sejarah penambangan dan gejala mineralisasi yang telah diketahui sejauh ini di sana oleh pak Lodih.
Sejarah eksplorasi mineral berharga, terutama emas, di Cikondang sebenarnya sudah dimulai sejak masa kolonial Belanda. Demikian disampaikan pak Lodih mengawali penjelasannya. Kemudian, IUP eksplorasi Cikondang ini berganti-ganti pemilik, hingga akhirnya saat ini dimiliki oleh PT. CKP dimana perseroan terbatas ini akuisi mayoritas sahamnya oleh PT. Indo-Rama Synthetics Tbk (PT. Indorama). Penjelasan SG selanjutnya menyebutkan bahwa mineralisasi yang terjadi di kawasan Cikondang adalah endapan epithermal, lebih tepatnya lagi, epithermal sulfidasi menengah (ESM). Disampaikan pula oleh beliau bahwa di area Cikondang ada dua jenis vein (urat) yang mengandung mineralisasi emas, yaitu vein kuarsa dengan kandungan emas biasa saja, namun cukup ekonomis; dan vein sulfia masif dengan kandungan emas yang sangat tinggi (hingga 16 ppm); namun tingkat recovey rendah alias sulit diekstraksi.
Salah satu ciri endapan epithermal adalah hadirnya apa yang disebut sebagai base metal (logam dasar) seperti emas (Au), perak (Ag), tembaga (Cu), timbal (Pb), dan Seng (Zn). Demikian pula, hal itu terjadi di area Cikondang, sebagaimana disampaikan oleh pak Lodih. Satu hal yang menarik yang menjadi bahan diskusi antara dosen pembimbing dan para geologist dari PT. CKP adalah kehadiran emas yang sangat tinggi, di salah satu urat mineralisasinya, di mana, kandungan base metal-nya juga cukup tinggi. “Ini sesuatu yang unik”, kata Ir. Sabtanto Joko Suprapto, MT, dosen pengampu MK Geologi Bijih Primer yang segera dibenarkan oleh Dr. Ir. Benny Bensaman, M.T, koleganya yang bersamanya mengampu MK tersebut. Apakah keunikan itu?
“Di Cikondang terdapat deposit emas yang berasosiasi dengan logam dasar kadar tinggi. Selain berasosiasi dengan sulfida logam berupa galena, sfalerit, dan arsenopirit dijumpai juga kalsit. Asosiasi mineral-mineral tersebut mengindikasikan ke arah ke tipe epithermal sulfidasi rendah - menengah (intermediate). Pada bijih dengan sulfida tinggi, sebagian emas berupa inklusi dalam sulfida. Meskipun telah digiling sampai 200 mesh, sebagian emas masih bisa berada sebagai inklusi di dalam sulfida. Kondisi ini akan menghasilkan perolehan ekstraksi yang rendah sebagai akibat reagen pelindian tidak bisa mengenai emas. Oleh sebab itu perlu ada proses untuk membebaskan emas sebagai inklusi tersebut, antara lain dengan proses roasting. Namun limbah gas hasil roasting ini akan menimbulkan efek ke lingkungan sekitar. Selain itu dengan hadirnya kandungan arsenopirit, dimana arsen merupakan unsur toksik, perlu penanganan tambahan juga, yaitu limbah sebelum dilepas ke alam sebagai tailing, dilakukan detoksifikasi”. Demikian penjelasan pak Sabtanto yang dibenarkan oleh Pak Benny. Secara singkat, pak Benny menjelaskan kondisi tersebut: “…bahwa umumnya pada kondisi kaya akan logam dasar, kadar emas nya akan rendah, tapi di Cikondang malah makin tinggi”.
Itulah keunikan mineralisasi emas Cikondang. Hal ini pula yang sekaligus memberi tantangan penting kepada bidang GETME (GEologi, Tambang , dan MEtalurgi), yaitu tiga bidang prodi yang ada di PEP Bandung. Dari sisi eksplorasi geologi (GE), sebagaimana dijelaskan pak Sabtanto lebih lanjut, tantangannya adalah para geologiwan harus dapat mengidentifikasi semua jenis kandungan mineral-mineral logam berpotensi ekonomis dan mineral-mineral yang bersifat toksik, termasuk pola sebarannya. Hasil identifikasi tersebut sangat penting bagi tahapan selanjutnya, yakni sangat menentukan skema/metode ekstraksinya. Dari sisi tambangan (T) jelas terdapat bagaimana cara menambang dengan pola sebaran endapan mineral seperti tipe Cikondang ini. Dari sisi metalurgi (ME), sebagaimana telah tergambar di atas, tantangannya secara umum adalah bagaimana agar recovery emas yang diperoleh tinggi dengan sedikit atau tidak menimbulkan masalah lingkungan yang berarti.*** (penulis: Oman Abdurahman).



