Dosen dan mahasiswa Program Studi Teknologi Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung (23/07/22) melakukan penelitian di Curug Jompong Kabupaten Bandung Jawa Barat. Ketua Tim Penelitian Curug Jompong Sabtanto Joko didampingi oleh Denny Lumban dan Priatna serta 10 mahasiswa melakukan kajian pada tiga lokasi untuk mengetahui sesar dan batuan intrusi di lokasi tersebut.
Curug Jompong merupakan lokasi jebolnya Danau Bandung Purba Timur pada sekitar 16.000 tahun yang lalu. Pada masa Pemerintahan Hindia Belanda menjadikan lokasi ini sebagai daerah tujuan wisata, seperti dapat kita lihat dalam buku panduan wisata tahun 1927, Gids van Bandoeng en Midden-Priangan, door S.A. Reitsma en W.H. Hoogland.
Danau Bandung Purba Timur adalah sebuah danau raksasa, yang di bagian barat dibatasi perbukitan membentuk pematang memanjang utara-selatan melintas di lokasi Curug Jompong. Namun akhirnya dasar danau mengering seiring perkembangan kondisi geologi. Dasar danau tersebut kini menjadi tempat Kota Bandung berada. Aliran air di Kota Bandung dan sekitarnya membentuk Sungai Citarum, mengalir melewati celah sempit di Curug Jompong. Sehingga kodisi geologi di Curug Jompong menarik dari aspek geologi untuk diteliti.
Dosen dan mahasiswa Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung (PEP Bandung) melakukan penelitian di Curug Jompong dalam beberapa tahap. Pada hari Sabtu, 23 Juli 2022, penelitian melibatkan empat dosen dan sepuluh mahasiswa. Pada penelitian kali ini, dosen dan mahasiswa melakukan pengukuran jurus dan kemiringan kekar dan sesar pada batuan intrusi Curug Jompong, serta pengambilan sampel untuk dianalisis komposisi mineral dan kimianya.
Penelitian yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa PEP Bandung bertujuan untuk mengetahui tipe kekar pada tubuh batuan intrusi Curug Jompong, komposisi mineralogi, dan komposisi kimia. Berdasarkan data tersebut untuk merekonstruksi geologi intrusi Curug Jompong, serta potensinya sebagai pembawa mineralisasi.
Batuan beku dengan karakteristiknya sangat berperan penting dalam pembentukan cebakan logam. Komposisi kimia dan komposisi mineralogi, sangat menentukan mineralisasi logam yang dihasilkan. Demikian juga karakteristik fisik berupa kekar-kekar yang terbentuk, terutama pada saat proses pendingingan atau pembekuan magma, menjadi media lewatnya gas dan fluida bermigrasi, dan rongga kekar dapat menjadi tempat dimana mineral-mineral logam ’bersarang’ (open space filling).
Kekar pada batuan intrusi dapat dihasilkan akibat proses pendinginan magma dan kemungkinan oleh proses tektonik yang aktif setelah batuan intrusi terbentuk. Kekar tektonik terbentuk karena adanya pengaruh dari proses tektonik, atau gaya yang dihasilkan akibat dari pergerakan kulit bumi.
Kekar hasil proses tektonik, seperti kekar gerus terjadi akibat adanya gaya kompresi atau tekanan. Ciri dari kekar ini cenderung berpasangan, bidang kekarnya lurus dan rata. Sedangkan kekar yang terbentuk akibat pendinginan magma terjadi saat magma mengintrusi yakni saat dimulai pendingingan dan kristalisasi, kandungan air pada magma secara signifikan membantu proses pendinginan. Air meteorik juga bereperan mendinginkan magma, dengan menembus ke dalam tubuh magma melalui retakan yang berkembang di kulit luar tubuh magma yang mendingin, sehingga membentuk sirkulasi atau konveksi hidrotermal.
Permeabilitas meningkat pada tepian tubuh intrusi yang mendingin, terbentuk rekahan-rekahan yang menembus ke dalam magma serta membentuk rekahan pada batuan samping sekitarnya. Proses konvektif air tanah dan hidrotermal mempercepat proses hilangnya panas. Ciri kekar ini adalah membentuk bidang yang tegak lurus dengan bidang tepi tubuh intrusi.
Untuk hasil penelitian pada batuan intrusi Curug Jompong tunggu pada artikel berikutnya.
Penulis: Aisha
Mahasiswi Teknik Geologi, Ang 21.



