Peningkatan kebutuhan untuk energi baru terbarukan, mobil listrik dan penyimpanan sumber listrik meningkatkan kebutuhan akan mineral yang menjadi sumber logam untuk teknologi tersebut. Diantaranya adalah logam nikel, kobalt, litium, scandium, galium dan logam-logam tanah jarang lainnya. Mineral yang mengandung logam-logam ini sering disebut Critical Minerals, dan direfer sebagai Critical Raw Materials (CRMs) yang didefinisikan sebagai material yang memiliki nilai ekonomi yang sangat penting tetapi memiliki resiko suplai yang tinggi (European Commission, 2020, p. 1). Daftar logam CRM dapat berbeda disetiap negara karena tergantung kepada industri yang membutuhkannya. Sebagai contoh, di Kanada yang merupakan daftar CRM adalah mineral dan logam: tembaga (Cu), nikel (Ni), uranium (U) dan seng (Zn) (Government of Canada, 2021, par. 3). Bagi Australia, daftar CRM adalah mineral dan logam kobalt (Co), lithium (Li), mangan (Mn), tungsten (W), dan vanadium (V) (Australian Government, 2022, par. 24).
CRMs adalah komponen vital pada proses penciptaan peralatan-peralatan yang penting bagi kehidupan manusia Kobalt dan nickel digunakan untuk smartphone, laptop, dan tablet (Venditti, 2021, par. 5). CRMs seperti sulfur banyak digunakan untuk menciptakan produk-produk pembersih dan karet (Royal Society of Chemistry, 2022, par 2). Logam-logam CRM ini dapat dijumpai pada mineral utama di Indonesia sebagai mineral ikutan dari nikel, tembaga, timah, bauksit dan lain-lain.
Negara Amerika Serikat, Australia, Kanada, Peru, Botswana dan negara lainnya yang memiliki dan membutuhkan mineral kritis ini untuk pengembangan teknologi energi baru, berkolaborasi dengan tujuan mempromosikan pengelolaan sektor pertambangan dan rantai suplai dari mineral-mineral kritis ini kepada negara-negara pemilik mineral kritis ini. Program yang disiapkan dalam bentuk short course dan diselenggarakan oleh Energy Resource Governance Initiative (ERGI) Academy yang berpusat di University of Nevada, Reno (UNR), Nevada, Amerika Serikat. Program ini dibiayai oleh Pemerintah Australia melalui Departement of Foreign Affairs and Trade (DFAT). ERGI Academy mengundang pemerintah negara-negara yang memiliki mineral kritis khususnya yang terlibat dalam penyusunan kebijakan pertambangan untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait pengelolaan dan peraturan terkait pengelolaan pertambangan mineral kritis di negara masing-masing. Delegasi yang diundang terdiri dari beberapa batch, diantaranya Indonesia, Columbia, Brazil, dan Australia.
Delegasi dari Indonesia dihadiri oleh Deputi Bidang Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Septian Hario Seto, Asisten Deputi Bidang Pertambangan Kemenko Marves Tubagus Nugraha, Asisten Deputi Bidang Investasi Strategis Kemenko Marves Bimo Wijayanto, Koordinator Pengelolaan Wilayah Mineral dan Batubara Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) Cecep M. Yasin dan Wakil Direktur I Politeknik Energi dan Pertambangan (PEP) Bandung Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi dan Sumber Daya Mineral (BPSDM ESDM) KESDM Imelda Hutabarat.
Topik-topik yang dibahas diantaranya: Mining of Energy Resource Minerals, Data Acquisition and Management, Mine Reclamation and Environmental Management, Workforce Development, Fiscal Terms and Contracts, Mineral Licensing and Leasing and International Standards for Resource Reporting, GIS and Spatial Data Analysis, Health and Safety Standards, Social License to Operate dan Mine Cycle Assessment. Selain itu delegasi dari Indonesia akan melaksanakan kunjungan lapangan ke Tambang Litium di Silver Peak, Nevada, Amerika Serikat. Program untuk Delegasi Indonesia berlangsung dari tanggal 16 Juli hingga 31 Juli 2022.



