WhatsApp

Hi!

Menciptakan tenaga ahli yang unggul di bidang energi dan pertambangan melalui pendidikan vokasi yang terarah dan aplikatif

Information

Follow Us

Berita & Pembaruan

Membingkai Keindahan Alam Dieng

16 Oktober 2022

Unit Kegiatan Mahasiswa Forum Mahasiswa Kreatif (Formatif) Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung (PEPB) menyelenggarakan Workshop Teknik Fotografi dan Videografi di Dataran Tinggi Dieng, 15-16 Oktober 2022. Kedua narasumber Ronald Agusta dan Genya Anuceni Kurnain memberikan pembekalan pada tanggal 15 Oktober sebelum para peserta ke lapangan pada esok harinya. Ronald Agusta memberikan materi via zoom dan Genya memberikan materi langsung di lokasi. Materi yang disampaikan oleh Ronald Agusta tentang bagaimana membuat berita dan tulisan hasil perjalanan dan survei lapangan, termasuk teknik foto di lapangan, sementara Genya lebih menitikberatkan kepada pentingnya konten kreatif yang ditampilkan melalui video di masa kini.

Kegiatan PEPB yang digagas oleh Unit Kegiatan Mahasiswa FORMATIF ini melibatkan para dosen dari tiga program studi. Sebelum berangkat ke Dieng 22 mahasiswa dari tiga prodi mendapatkan pembekalan dari Pakn Sabtanto Joko Suprapto tentang Litium serta dari Pak Achmad Djumarma tetang panasbumi dan gunung api. Bahkan jauh hari sebelum kegiatan dilaksanakan Pak Priatna sering melakukan webinar tentang Dieng baik dari sisi keindahan alamnya juga tentang bahaya gas beracun di Dataran Tinggi Dieng.

Selain disampaikan melalui webinar Dosen yang terlibat Pak Suparno kerap berdiskusi tentang pertambangan, Pak Adang terkait pemetaan salah satunya menggunaka dron, dan Pak Tedi juga berbagi pengalaman tentang reklamasi tambang dimana Dieng yang terkenal dengan panas bumi dan permasalahan kandungan silika yang tinggi dalam uap yang dihasilkan Dieng.

Di  Pos Pengamatan Gunung api para mahasiswa berdiskusi dengan Aziz Yuliawan tentang aktivitas Dataran Tinggi Dieng serta bahaya gas beracun. Peristiwa tahun 1979 ketika 149 orang meninggal di Bumi Dieng menjadi perhatian para mahasiswa bawha ternyata memahami gunung api terutama sifat gas gunung api bagi masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api sangat penting.

Dieng dipilih oleh UKM FORMATIF untuk dijadikan tempat belajar karena Dieng merupakan tempat wisata yang sedang digandrungi kaum milenial. Dieng merupakan dataran tinggi yang  memiliki panorama yang begitu indah dan udaranya sejuk. Para peserta yang terdiri dari mahasiswa dosen langsung raktek mempotret dan shooting video spot-spot yang indah di Dieng.

Pada tanggal 16 Oktober para peserta workshop menuju bukit Sikunir Dieng untuk melakukan praktek pengambilan foto. Dari Bukit Sikunir yang berketinggian sekitar 2200 meter Terlihat Gunung Sundoro yang berketinggian 3151 meter. Di Bukit Sikunir banyak sekali pengunjung dan ternyata bukit ini adalah bukit paling populer untuk dikunjungi.

 

Perjalanan menuju Bukit sikunir diperlukan 30 menit berjalan kaki dari Desa Sembungan. Momen yang diburu dari tempat ini adalah matahari terbit berhias arakan awan yang sangan populer di Dataran Tinggi Dieng.

Lokasi yang dikunjungi adalah Kawah Sikidang yang memiliki hamparan terluas dengan aktivitas vulkaniknya yang tidak membahayakan berdasarkan hasil penelitian Pak Priatna. Di Kawah Sikidang para peserta belajar dan menyaksikan langsung bagaimana Pemerintah Daerah Banjarnegara melakukan penataan kawah. Berdasarkan informasi beberapa tahun yang lalu di Kawah Sikidang banyak sekali pedagang yang berjualan mendekat ke Kawah. Hal ini juga sangat penting bagi para mahasiswa mempelajari karakteristik alam di lapangan dan bagaimana cara penataan dan terlebih tetang mitigasi bahayanya.

Pada bagian akhir dari studi singkat ke Dataran Tinggi Dieng peserta disuguhkan dengan hamparan rumput yang dihiasi Candi. Itulah komplek Candi Arjuna sebagai peninggalan bukti peradaban dan kebudayaan yang ditinggalkan masyarakat Dieng di masa lalu. Keberadaan Candi Arjuna melengkapi Dieng yang memang sangat layak segera jadi Geopark. Keragaman geologi sebagai sisa aktivitas vulkanik berupa air kawah, telaga batuan, gas, dan panas bumi didukung dengan ragam budaya yang sudah ada serta ragam hayati kentang, purwaceng dan caricanya dapat mengangkat Dieng ke pentas dunia.

Meski dingin dan kabut selalu menjemput mereka yang datang ke dataran tinggi ini tapi Dieng tetap mempesona untuk selalu dikunjungi, hamparan keindahan bukit dan lembah bahaya gas potensi panas bumi mengukuhkan Dieng sebagai swalayan kebumian. Semua yang ditulis dalam lirik lagu Dieng, Negeri Di Atas Awan oleh Pak Priatna benar adanya dan Dieng membuat semua peserta workshop ingin kembali bergegas datang ke Dieng untuk belajar dan berbagi ilmu.

Penulis: Alvina dkk. (Formatif)