BANDUNG 2 Maret 2026 –
Direktur Politeknik Energi dan Pertambangan (PEP) Bandung, Dr.mont. Imelda Eva
Roturena Hutabarat, S.T., M.T., secara resmi membuka kuliah umum bertajuk
strategi Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) pada Senin, 2 Maret
2026. Acara yang berlangsung ini menghadirkan narasumber utama, Iwan Suryatno,
Head of Permit & Government Relation PT Pesona Khatulistiwa Nusantara
(PKN).
Dalam sambutannya, Dr.mont. Imelda
menekankan bahwa kolaborasi antara akademisi dan praktisi industri sangat
krusial untuk memberikan gambaran nyata bagi mahasiswa mengenai penerapan
regulasi di lapangan, khususnya terkait keberlanjutan pasca tambang.
Tercatat sebanyak 256 peserta hadir
memenuhi ruangan, yang terdiri dari tamu undangan dari PPSDM Geominerba,
perwakilan Balai Besar Pengujian Mineral dan Batubara (BBPMB) tekMIRA, serta
seluruh civitas akademika PEP Bandung. Kehadiran lintas instansi ini
menunjukkan pentingnya topik pemberdayaan masyarakat dalam ekosistem
pertambangan nasional.
Dalam paparannya, Iwan Suryatno
menjelaskan bahwa fokus utama PT PKN adalah menciptakan "Transformasi
Manfaat" agar masyarakat tetap berdaya setelah operasional tambang
berakhir. Strategi ini dirancang untuk menghindari terbentuknya ghost town atau
kota mati pasca tambang dengan mendorong diversifikasi ekonomi sejak
dini.Implementasi 4 Pilar Pemberdayaan
PT PKN menjalankan program
Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang berlandaskan pada empat
pilar utama:
·
Pendidikan & Pengetahuan: Melalui pemberian
beasiswa prestasi dan asrama bagi siswa SD hingga perguruan tinggi, serta
layanan transportasi sekolah untuk memudahkan akses pendidikan.
·
Kesehatan & Nutrisi: Fokus pada penanganan
stunting melalui metode Positive Deviance, pemberian makanan tambahan di 32
Posyandu, serta pembangunan sarana air bersih dan sanitasi layak (ODF).
·
Kesejahteraan Masyarakat: Pengembangan ekonomi
kerakyatan melalui Cluster Kakao, Jagung, peternakan terpadu, hingga
pendampingan 8 BUMDes untuk menciptakan kemandirian ekonomi desa.
·
Lingkungan & Budaya: Melakukan konservasi flora
dan fauna serta memfasilitasi pelestarian budaya dan kerajinan tangan
lokal.Kolaborasi Strategis dan MBKM
Bapak Iwan juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi melalui model
Pentahelix, yang melibatkan pemerintah, akademisi, hingga komunitas. Salah satu
bentuk implementasi nyatanya adalah program MBKM Membangun Desa, di mana
mahasiswa penerima beasiswa PT PKN diterjunkan langsung untuk mendampingi
masyarakat desa dalam inovasi produk, seperti pengembangan "Pesona
Sambal" di Desa Salimbatu. Acara
diakhiri dengan sesi diskusi interaktif antara peserta dengan narasumber, yang
diharapkan dapat memperkaya wawasan para calon ahli pertambangan dari PEP
Bandung mengenai pentingnya aspek sosial dalam industri. Kuliah umum
ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mendalam bagi mahasiswa PEP Bandung
mengenai kompleksitas pengelolaan hubungan pemangku kepentingan dan pentingnya
keberlanjutan dalam industri pertambangan nasional.



