WhatsApp

Hi!

Menciptakan tenaga ahli yang unggul di bidang energi dan pertambangan melalui pendidikan vokasi yang terarah dan aplikatif

Information

Follow Us

Berita & Pembaruan

Menata Kawah Ciwidey

27 Agustus 2022

Pada hari Sabtu, 27 Agustus 2022, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung menyelenggrakan Webinar dengan judul Penataan Kawah Ciwidey. Webinar ini merupakan awal dari rangkaian kegiatan PKM yang akan dilaksanakan di Kawah Ciwidey, Kabupaten Bandung. Webinar dihadiri oleh sekitar 50 peserta dari kalangan mahasiswa dan dosen PEP Bandung, serta dari eksternal kampus seperti dari Badan Geologi, ITB, dan lainnya. Dua Narasumber mengisi webinar ini, yakni Dr. Achmad Djumarmah, Wirakusukah Dipl,.Seis sebagai pembicara pertama menyampaikan topik Panas Bumi Patuha sedangkan pembicara kedua Ir. Benny Bensaman, M.T. memaparkan Mineralogi Alterasi Hidrotermal di Lapangan Panas Bumi Kawah Ciwidey. 

Ketua Unit Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat, Ir. Sabtanto Joko Suprapto M.T. dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kawah Ciwidey menarik untuk dijadikan tempat penelitian kebumian. Narasumber sekaligus sebagai dosen PEP Bandung yang akan tampil memiliki pengalaman dan kompetensi keilmuan yang mumpuni.

Pembicara pertama menjelaskan tentang sistem dan potensi panas bumi yang terdapat di daerah Gunung Patuha dan sekitarnya. Panas Bumi sesuai dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2014, adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, serta batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem Panas Bumi. Keberadaan potensi panas bumi diindikasikan oleh adanya manifestasi seperti mata air pana, fumarola, sinter silika, dan alterasi. Manifestasi tersebut dapat dijumpai di Kawah Ciwidey.

Lapangan Panas Bumi Patuha memiliki luas 35 km2, terdapat 13 bor produksi yang menembus kompleks batuan vulkanik muda berumur 0,12 - 1,25 juta tahun. Kawah Ciwidey  merupakan bagian dari sistem panas bumi pada zona upflow. Selaras dengan pembicara pertama, pembicara kedua membahas tentang hidrotermal di lingkungan Kawah Ciwidey yang menghasilkan alterasi dan mineralisasi. Hidrotermal  dengan tipe fluida berupa sulfat, menghasilkan alterasi dan mineralisasi tipe high sulphidation di area tersebut, dengan kandungan emas 13-93 ppb, tembaga 4 – 108 ppm, kandungan tertinggi arsen 240 ppm, serta menghasilkan alterasi mineral lempung berupa kaolin, ilit, monmorilonit, serta mineral ribekit, tridimit, dan  anhidrit.

Fenomena geologi di Kawah Ciwidey tersebut dapat menjadi obyek pembelajaran geologi yang sangat menarik dan langka.  Disarankan oleh pembicara untuk dirawat dan dijaga kelestariannya, serta menjadi geosite untuk obyek belajar tentang sistem panas bumi dan belajar tentang alterasi dan mineralisasi hidrotermal. Oleh karena itu PkM yang akan dilaksanakan di Kawah Ciwidey dimaksudkan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat agar bisa turut serta berpartisipasi menjaga kelestarian Kawasan Kawah Ciwidey serta dengan menata kawasan Kawah Ciwidey agar berkembang menjadi destinasi wisata pendidikan.
 
Penulis: 
Maftukha Alfiani dan Mutiya Jaya Ibrahim
Mahasiswa Teknologi Geologi angkatan 2021


On Saturday, August 27, 2022, Pengabdian kepada Masyarakat team (PkM), Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung menyelenggrakan Webinar dengan judul “Penataan Kawah Ciwidey”. This webinar is the beginning of a series of PKM activities that will be held in Ciwidey Crater, Bandung Regency. The webinar was attended by around 50 participants from PEP Bandung students and lecturers, as well as from external campuses such as the Geological Agency, ITB, and others. Two resource persons filled this webinar, namely Dr. Achmad Djumarmah, Wirakusukah Dipl,. Seis as the first speaker presented the topic of Patuha Geothermal while the second speaker was Ir. Benny Bensaman, M.T. explained the Hydrothermal Alteration Mineralogy at the Ciwidey Crater Geothermal Field.

Head of Service and Community Service Unit, Ir. Sabtanto Joko Suprapto M.T. in his speech said that Ciwidey Crater is interesting to be used as a place for earth research. The resource person is also a Bandung PEP lecturer who will appear to have qualified experience and scientific competence.

The first speaker explained about the geothermal system and potential in the Patuha Mountain area and its surroundings. Geothermal in accordance with Law Number 21 of 2014, is a source of thermal energy contained in hot water, water vapor, and rocks along with associated minerals and other gases which are genetically inseparable in a Geothermal system. The existence of geothermal potential is indicated by the presence of manifestations such as hot springs, fumaroles, sintered silica, and alteration. These manifestations can be found in Ciwidey Crater.

The Patuha Geothermal Field has an area of 35 km2, there are 13 production drills that penetrate the young volcanic rock complex of 0.12 - 1.25 million years old. Ciwidey Crater is part of the geothermal system in the upflow zone. In line with the first speaker, the second speaker discussed hydrothermal in the Ciwidey Crater environment which resulted in alteration and mineralization. Hydrothermal fluid type in the form of sulfate, produces alteration and high sulphidation type mineralization in the area, with gold content of 13-93 ppb, copper 4-108 ppm, highest content of arsenic 240 ppm, and produces alteration of clay minerals in the form of kaolin, illite, montmorillonite, and the minerals ribecite, tridymite, and anhydrite.

The geological phenomenon in Ciwidey Crater can be a very interesting and rare object of geological learning. It was suggested by the speaker to be cared for and preserved, as well as to become a geosite for learning objects about geothermal systems and learning about hydrothermal alteration and mineralization. Therefore, the PkM which will be held in Ciwidey Crater is intended to socialize to the public so that they can participate in preserving the Ciwidey Crater Area and by arranging the Ciwidey Crater area to develop into an educational tourism destination.

Writer:
Maftukha Alfiani and Mutiya Jaya Ibrahim
Geological Technology student batch 2021