Dataran Tinggi Dieng kembali menjadi laboratorium alam bagi kegiatan akademik Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung. Pada tanggal 3–5 April, tim dosen bersama mahasiswa melaksanakan penelitian bertajuk “Aplikasi Isotop untuk Mitigasi Bencana Gas di Kawah Sikidang Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.” Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penelitian ilmiah, tetapi juga menjadi media pembelajaran lapangan, penguatan kolaborasi serta kontribusi nyata bagi upaya mitigasi bencana di kawasan Dieng yang kini telah ditetapkan sebagai Geopark Nasional.
Tim penelitian dipimpin oleh Priatna, dosen Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung, bersama Sabtanto Joko Suprapto, Adang Saputra dan Sofyan Primulyana serta didampingi Admin UPPM Apriyanti. Kegiatan ini juga melibatkan Yustinus Sulistiyo yang sebelumnya bertugas di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) di bawah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Selain itu, kegiatan ini diikuti oleh 45 mahasiswa Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung angkatan 25 yang sekaligus melakukan pembelajaran lapangan sebagai bagian dari persiapan praktik kerja lapangan.
Selama kegiatan berlangsung, para dosen secara langsung menyampaikan materi tentang karakteristik geologi dan bahaya gas di Dataran Tinggi Dieng. Mahasiswa juga mendapatkan pembelajaran teknis mengenai metode sampling gas dan kondensat di lapangan. Proses pengambilan sampel dilakukan di Kawah Sikidang dengan pendekatan ilmiah untuk mengetahui tingkat kandungan gas beracun serta memahami hubungan aktivitas hidrotermal dengan magmatisme di bawah permukaan. Kegiatan ini menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa karena mereka dapat melihat langsung bagaimana penelitian mitigasi bencana dilakukan secara nyata di lapangan.
Selain kegiatan ilmiah, suasana kebersamaan juga terasa selama kegiatan berlangsung. Seluruh peserta bermalam di Pos Gunung Dieng dengan jumlah sekitar 50 orang. Di tengah udara dingin dataran tinggi, kebersamaan semakin hangat ketika kegiatan logistik dilakukan secara gotong royong. Priatna bahkan memasak sebanyak tiga kali untuk seluruh peserta. Kehangatan makanan sederhana di tengah udara dingin Dieng menjadi momen kebersamaan yang mempererat hubungan antara dosen dan mahasiswa.
Bagi Priatna, Dieng memiliki makna khusus. Dataran Tinggi Dieng merupakan tempat ia menyelesaikan studi S2 dan S3, sekaligus lokasi penelitian yang telah lama digeluti. Pengalaman tersebut telah melahirkan berbagai karya ilmiah dan populer tentang Dieng. Tiga buku telah ditulis, yaitu Pesona Bumi Dieng, Gejolak Dieng dan Memahami Gas Gunung Api. Selain itu, berbagai artikel juga telah dipublikasikan, di antaranya Awan Berarak Asap Mengalun di Bumi Dieng, Menata Eksotisme Dieng serta Dieng Calon Geopark yang Menjanjikan. Kini, kebanggaan tersebut semakin lengkap karena kawasan Dieng telah ditetapkan sebagai Geopark Nasional.
Kegiatan lapangan juga dilengkapi dengan pengamatan kawasan lain di Dieng. Mahasiswa melakukan pendakian dini hari menuju Bukit Sikunir untuk menyaksikan matahari terbit. Selain itu, rombongan juga mengunjungi Kawah Sileri untuk memahami karakteristik sistem hidrotermal yang berbeda. Kegiatan ini memberikan pemahaman komprehensif kepada mahasiswa mengenai keragaman fenomena geologi di kawasan Dieng.
Penelitian ini tidak berhenti pada kegiatan pengambilan data. Hasil penelitian direncanakan akan ditindaklanjuti melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat pada tahun mendatang. Salah satu rencana yang akan disampaikan kepada pemerintah daerah adalah rekomendasi mitigasi bahaya gas di Kawah Sikidang. Usulan tersebut merupakan pengembangan dari kajian yang sebelumnya dilakukan saat mengikuti Program Studi Pendidikan Profesi Insinyur di Universitas Islam Bandung. Rekomendasi tersebut antara lain berupa gagasan pembangunan gedung evakuasi atau tempat berlindung darurat (emergency shelter) di kawasan Kawah Sikidang sebagai bagian dari sistem mitigasi bencana gas bagi wisatawan dan masyarakat.
Sebagai Dewan Pakar Geopark Dieng, Priatna menyampaikan apresiasi atas sambutan positif dari Pemerintah Daerah Banjarnegara dan Wonosobo terhadap kegiatan penelitian ini. Dukungan pemerintah daerah menjadi langkah penting dalam penguatan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaan kawasan Dieng sebagai Geopark Nasional yang aman, edukatif dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi antara dosen, mahasiswa dan pemerintah daerah, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menghasilkan data ilmiah, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam upaya mitigasi bencana gas di kawasan wisata Kawah Sikidang. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa, memperkuat kompetensi lapangan serta menumbuhkan kepedulian terhadap keselamatan di kawasan geowisata Indonesia. (P)



