Politeknik Energi dan Pertambangan (PEP) Bandung secara resmi membuka kegiatan Diklat Teknologi Keselamatan Tambang Batubara Bawah Tanah yang diselenggarakan di Gedung SM SAIR, Selasa 27 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang dalam program “The Training Project on Coal Mining Technology” yang diinisiasi oleh Japan Organization of Metals and Energy Security (JOGMEC).
Diklat ini diikuti oleh seluruh mahasiswa angkatan 2025 di lingkungan Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung dan akan berlangsung selama tiga hari, dengan fokus utama pada peningkatan pemahaman dan kompetensi mahasiswa terkait teknologi dan keselamatan tambang batubara bawah tanah.
Acara pembukaan hari pertama secara resmi dibuka oleh perwakilan dosen PEP Bandung, Ir. Suparno, M.Si. Dalam sambutannya "Pak Parno" panggilan akrabnya, Beliau menyampaikan harapannya agar kegiatan diklat ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para peserta, khususnya mahasiswa semester 2 (dua) angkatan 2025.
“Mahasiswa semester dua diharapkan dapat mempelajari dan memahami teknologi keselamatan tambang batubara bawah tanah sejak dini. Pengetahuan ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja pertambangan yang memiliki tingkat risiko tinggi, sehingga keselamatan kerja harus menjadi prioritas utama,” ujar Pak Parno.
Pada hari pertama pelaksanaan, kegiatan diawali dengan sesi pembukaan serta penjelasan kurikulum pelatihan dan pengisian angket awal oleh peserta. Selanjutnya, peserta menerima materi utama mengenai Teknologi Penambangan dan Keselamatan Tambang Bawah Tanah yang mencakup perkembangan pertambangan batubara di Indonesia. Selain itu ada juga metode penambangan batubara, sistem penyanggaan menggunakan roof bolt, potensi subsidensi atau penurunan permukaan tanah serta transisi pengembangan tambang dari sistem tambang terbuka (opencut) menuju tambang bawah tanah (underground).
Materi juga membahas secara komprehensif mengenai pengembangan tambang batubara bawah tanah di Indonesia serta penanganan permasalahan lingkungan tambang, termasuk upaya rehabilitasi dan pengelolaan air asam tambang. Sesi pembelajaran hari pertama disampaikan oleh narasumber dari pihak Jepang dengan dukungan penerjemah, sebagai bagian dari transfer pengetahuan dan teknologi antara kedua negara.
Kegiatan diklat akan dilanjutkan hingga hari ketiga dengan materi lanjutan dan pendalaman aspek teknis serta keselamatan tambang bawah tanah. (FM)



