Jakarta, 15 Oktober 2025 - Kegiatan Minerba Convex tahun ini diselenggarakan dengan menghadirkan berbagai perusahaan di sektor pertambangan, mineral dan batubara serta industri terkait lainnya. Acara ini juga dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai universitas dan institut, termasuk dari Politeknik Energi dan Pertambangan (PEP) Bandung. Mahasiswa PEP Bandung berkesempatan mengunjungi sejumlah stand perusahaan dan mengenal lebih dekat perkembangan terkini di industri pertambangan. Dalam kesempatan tersebut, para mahasiswa mendapat kesempatan bertemu dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang tengah melakukan kunjungan ke salah satu stand. Menteri ESDM menyambut hangat kehadiran mahasiswa dan berdialog secara interaktif mengenai prospek pengembangan sumber daya manusia di sektor pertambangan.
Pada sesi pembukaan yang berlangsung di Ballroom Jakarta Convention Center, dengan mengusung tema “Sinergi Investasi, Energi, dan Hilirisasi”, Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertambangan Bapak Purnomo, menyampaikan paparan mengenai pentingnya peran Generasi Emas Pertambangan dalam mendukung ketahanan energi nasional. Dalam pemaparannya, Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertambangan menekankan bahwa menuju Indonesia Emas 2045, sektor pertambangan menghadapi berbagai tantangan baik di tingkat makro maupun mikro.
Pada tingkat makro, tantangan meliputi dinamika geopolitik dan geo ekonomi yang memengaruhi ketahanan nasional, isu perubahan iklim, serta keterbatasan sumber daya alam yang perlu dikelola secara berkelanjutan. Selain itu, isu rantai pasok global terhadap mineral-mineral kritis seperti tembaga, litium, nikel, logam tanah jarang, dan kobalt juga menjadi perhatian utama. Perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi, serta meningkatnya minat terhadap ilmu pengetahuan turut menjadi faktor penentu daya saing sektor pertambangan di masa depan.
Pada tingkat mikro, tantangan utama mencakup kesenjangan keterampilan tenaga kerja, sistem pendidikan dan pelatihan yang belum optimal, lemahnya kolaborasi antar pemangku kepentingan, serta persoalan tata kelola dan etika. Ketimpangan geografis dan regional juga memperkuat tantangan dalam pemerataan kompetensi SDM di sektor ini. Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertambangan menegaskan bahwa sumber daya manusia (SDM) merupakan aset strategis yang harus memiliki kompetensi, integritas, dan daya saing tinggi sesuai kebutuhan industri, khususnya di tengah transformasi digital dan penerapan teknologi kecerdasan buatan yang semakin meluas.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ketahanan energi nasional ditopang oleh empat pilar utama, yaitu ketersediaan (availability), kemudahan akses (accessibility), keterjangkauan harga (affordability), serta penerimaan sosial dan lingkungan (acceptability). Keempat aspek tersebut menuntut sinergi antara kebijakan pemerintah, inovasi teknologi, dan penguatan kapasitas SDM pertambangan.



