Bandung, 23 Agustus 2025 — Sebuah momentum penting terselenggara di Auditorium Lantai 8 Gedung
Dekanat Universitas Islam Bandung (Unisba), Jl. Tamansari No. 24–26 Bandung,
Sabtu sore (23/8). Pada hari itu, dari pukul 16.00 hingga 19.30 WIB, suasana
khidmat mewarnai prosesi pengukuhan lulusan Program Studi Program Profesi
Insinyur (PSPPI), Faklutas Teknik, Unisba, Tahun 2024–2025 sebanyak 42 orang.
Dengan pembukaan acara dari Rektor Unisba, mereka dikukuhkan sebagai lulusan
program studi tersebut untuk menempuh perjalanan insinyur profesi ke depannya
yang terbentang luas.
Dari jumlah
42 orang yang dikukuhkan tersebut
kemarin, sembilan orang diantaranya merupakan dosen pada Politeknik Energi
dan Pertambangan (PEP) Bandung, termasuk
Dr. mont. Imelda
Eva Roturena Hutabarat, S.T.,
M.T., yang saat ini menjabat sebagai Direktur PEP Bandung. Peserta lainnya dari
PEP Bandung adalah: Dr. Asep Mohamad
Ishaq Shiddiq, S.T., M.T., Dr. Ir. Asep Rohman, S.T., M.T., Ir. Dian Eka Aryanti, S.T., M.T., Ir. Oman Abdurahman, M.T., Dr. Ir. Priatna, M.T., Ir. Sulistiyono, S.T., M.Si., Ir. Suparno,
M.Si., dan Ir. Yudi Rahayudin, S.T., M.T., Ph.D. Kehadiran para dosen PEP Bandung dalam pengukuhan ini
menjadi catatan istimewa, menandai kontribusi lembaga pendidikan vokasi energi
dan pertambangan tersebut dalam mendorong peningkatan kapasitas keinsinyuran
nasional.
Proses pengukuhan dibuka oleh Rektor
Unisba, Prof. Ir. A. Harit’s
Nu’man M.T., PhD.,
IPU., Asean Eng., dan dihadiri dan dilakukan oleh Ketua Pordi PSPPI Unisba;
dan Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc., IPU.,
ASEAN Eng., yang merupakan inisiator PSPPI di Indonesia, dan Anggota Masjlis
Kode Etik Keinsinyuran Indonesia. Beliau jugaadalah
Penasihat Prodi PSPPI Unisba. Hadir juga para pejabat terkait lainnya untuk
acara pengukuhan tersebut,
yaitu: Ketua Pengurus
Wilayah PII Provinsi
Jawa Barat, Ir. Muhammad Erpandi D., S.T., M.T., M.K.K.K.,
IPM; dan Dekan Fakultas Teknik
Unisba Dr. Ir. M. Dzikron,
MT. IPM.
Rangkaian acara
inti berlangsung penuh makna. Selain pengukuhan secara resmi, para peserta
mendapatkan pembekalan etika profesi oleh Prof. Djoko Santooso, kemudian
bersama-sama mengucapkan “Sumpah Insinyur”. Sumpah itu berbunyi : “Saya bersumpah bahwa: 1) Saya akan senantiasa
mengutamakan keselamatan, kesehatan lingkungan hidup, dan kesejahteraan
masyarakat; 2) Saya akan senantiasa bekerjasesuai dengan kompetensisaya; 3)
Saya akan senantias menghindari terjadinya pertentangan kepentingan dalam
tanggungjawab tugas saya; 4) Saya akan senantiasa memegang teguh kehormatan, integritas dan martabat profesi
dengan terus menerus mengembangkan kompetensi berdasarkan keahlian profesional
keinsinyuran; dan 5) Saya akan menjaga sikap, tingkah laku saya, dan akan
menjalankan kewajiban saya sesuai dengan kode etik profesi, kehormatan,
martabat, dan tanggungjawab saya sebagai
insinyur. Prosesi dilanjutkan dengan pelantikan oleh pihak universitas. Setiap langkah acara mencerminkan betapa gelar insinyur bukan
sekadar capaian akademik, melainkan juga amanah moral dan profesional yang
harus diemban dengan penuh tanggung jawab.
Dalam pembekalannya, Prof. Djoko menekankan bahwa insinyur profesi
adalah bagian dari sistem
pendidikan tinggi yang menyiapkan lulusan untuk langsung terjun di dunia kerja,
menghadapi tantangan teknologi, dan memberi solusi atas persoalan nyata
masyarakat. Menurutnya, etika profesi adalah pilar yang menjaga kualitas, integritas, serta tanggung jawab
sosial seorang insinyur. “Insinyur yang kompeten bukan hanya menguasai aspek
teknis, tetapi juga harus berpegang teguh pada kode etik profesinya. Di sinilah
nilai sejati dari gelar Insinyur,” demikian inti dari apa yang beliau pesankan
dalam sambutannya.
Lebih jauh, Prof.
Djoko mengingatkan bahwa lulusan program ini memiliki peluang untuk melanjutkan
perjalanan profesional mereka ke jenjang yang lebih tinggi melalui mekanisme
Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Gelar-gelar seperti
Ahli Profesional Utama (APU) atau Insinyur Profesional Utama (IPU) dapat diraih melalui akumulasi pengalaman kerja,
publikasi, dan keterlibatan aktif dalam pengembangan bidang teknik
masing-masing. Dengan demikian, pengukuhan kali ini hanyalah langkah awal dari
sebuah perjalanan panjang menuju keunggulan profesional.
Di samping itu,
gelar Insinyur Profesi juga membuka peluang yang lebih luas di tingkat
internasional. Melalui kerja
sama dan pengakuan regional, para insinyur
Indonesia kini dapat
lebih mudah berkiprah di
negara-negara anggota ASEAN. Kesempatan ini selaras dengan era globalisasi, di
mana mobilitas tenaga profesional lintas batas menjadi
kebutuhan. Bagi para dosen PEP Bandung yang baru saja dikukuhkan, capaian ini bukan hanya
pencapaian pribadi, tetapi juga aset penting untuk memperkuat peran institusi
dalam menyiapkan lulusan yang berdaya saing di tingkat nasional maupun
regional.
Dengan demikian,
pengukuhan Insinyur Profesi
Unisba bukan sekadar
seremoni akademik, tetapi sebuah langkah strategis yang memperkokoh kompetensi sumber daya manusia
teknik di Indonesia. Para dosen PEP Bandung yang kini menyandang gelar insinyur
diharapkan dapat menjadi teladan sekaligus penggerak lahirnya generasi insinyur
baru yang berintegritas, profesional, dan berwawasan global.*** (penulis
berita: Oman Abdurahman, PEP Bandung).



