Berita & Pembaruan
Hari Kamis, 07 Maret 2024, sesuai surat penugasan dari Direktur PEP Bandung, penulis telah berada di depan ruang lomba di Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah 4 di Cibiru, Kota Bandung. Ya penulis mendapat tugas menjadi juri lomba ilmu kebumian dalam acara olimpiade ilmu kebumian SMA Muhammadiyah seluruh Indonesia yang dilaksanakan di kompleks SMA Muhammadiyah 4 Bandung itu. Olimpiade ini memperlombakan banyak bidang ilmu, dari ilmu yang mendasar sekali, seperti matematika, fisika, dan kimia, sampai ilmu kebumian.
Olimpiade yang kali ini dilaksanakan di Kota Bandung diberi nama “OlympicAD-VII Nasional 2024”. Ini adalah acara “Olimpiade Ahmad Dahlan” yang rutin diselenggarakan dua tahun sekali. Tema Olimpiade AD yang ke-7 ini adalah “Membangun Kreativitas, Menumbuhkan Prestasi, Mewujudkan Pendidikan Berkelanjutan”, sebuah tema yang megah. Ada sebanyak 15 peserta lomba ilmu kebumian yang harus penulis nilai dalam rangka penjurian, terdiri atas empat orang perempuan dan sebelas orang laki-laki. Asal sekolah peserta beragam, mulai dari SMA Muhammdiyah 3 Jakarta yang terdekat, hingga SMA Muhammadiyah Pangkalpinang, Bangka Belitung, yang terjauh.
Ada yang sangat spesial yang diperoleh dari para peserta lomba: semangat mereka yang menyala-nyala untuk belajar dan mengetahui beragam bidang ilmu kebumian. Ini tampak dari upaya mereka dalam menyelesaikan lomba tersebut dari mulai persiapan hingga presentasi dan menjawab pertanyaan para juri. Padahal, materi ilmu kebumian yang dilombakan itu sendiri hemat penulis cukup berat untuk level SMA, bahkan untuk level mahasiswa sekalipun.
Ada 15 makalah atau karya tulis ilmiah (KTI) karya para sarjana/mahasiswa yang pernah dimuat di jurnal ilmiah yang harus dikaji, diringkas, dan dibuat bahan presentasinya dalam kertas ukuran A1 oleh ke-15 siswa peserta lomba kebumian ini, di mana satu peserta menelaah satu KTI yang berbeda. Hasilnya kemudian dipresentasikan di depan para juri untuk dinilai. Topik-topik makalah itulah yang menurut hemat penulis berat hingga sangat berat untuk level siswa SMA.
Topik KTI-KTI itu merentang mulai dari pendugaan lapisan akuifer, analisis lingkungan pengendapan, identifikasi kualitas site seismik, analisis reservoir migas, karakterisasi endapan laterit nikel, analisis sumber panas bumi volkanik dan non volkanik, analisis kekuatan tanah dan batuan, analisis sumber bahan galian batuan beku, identifikasi struktur sesar kaitannya dengan reservoir panas bumi, analisis bahaya tanah longsor, dan analisis karakter endapan lumpur. Metode yang digunakan dalam KTI-KTI tersebut meliputi beragam metode geofisika hingga geokimia. Misalnya, geolistrik, seismik, gaya berat (gravity), analisis GIS (Geographic Information system), XRD (X-ray Diffractometer), magnetik, magnetotelurik, dan lainnya. Daerah kajiannya mulai dari berbagai daerah di Indonesia hingga ada daerah di Amerika Serikat. Materi yang berat yang harus dikaji oleh para siswa level SMA tersebut tampak dari judul makalah tugas masing-masing peserta. Dua diantara topik itu, misalnya : “Analisis Dimensionalitas dengan Tensor Fase dan Model 2D Sistem Geotermal Camas Prairie, Idaho, Amerika Serikat Berdasarkan Data Magnettelurik, dan “Identifikasi Kualitas Site Seismik di Sulawesi Tenggara”.
Banyak peserta yang sama sekali tidak mengusai materi KTI secara keseluruhan, sehingga para penguji harus menurunkan meteri pertanyaannya ke tingkat pengetahuan dasar level SMA untuk subtansi yang dibahas dalam KTI yang resumenya dipresentasikan oleh masing-masing peserta tersebut. Misalnya, untuk topik KTI tentang magnetotelurik, maka penguji menggali kemampuan peserta perihal pelajaran kemagnetan pada level dasar di SMA. Dengan semangat yang pantang menyerah, sekitar 10 orang peserta secara ulet berusaha menjawab pertanyan demi pertanyaan dari tim penguji. Ternyata, ada 5 orang peserta diantaranya yang mampu, bukan saja menjawab pertanyaan level SMA, namun juga butir-butir penting terkait isi makalah.
Demikian satu pengalaman yang sangat berharga dari acara penjurian olimpiade ilmu kebumian yang diikuti sebanyak 15 siswa SMA dari berbagai SMA Muhmmadiyah di Indonesia dengan tugas mempresentasikan resume dari sebuah KTI yang pernah terbit di sebuah jurnal ilmiah. Satu hal mengemuka, bahwa semangat belajar ilmu kebumian masih dimiliki oleh para siswa SMA kita.
***(penulis: Oman Abdurhaman).



