WhatsApp

Hi!

Menciptakan tenaga ahli yang unggul di bidang energi dan pertambangan melalui pendidikan vokasi yang terarah dan aplikatif

Information

Follow Us

Berita & Pembaruan

Mahasiswa Teknologi Geologi Angkatan 2026 Pelajari Proses Kimia Geotermal di Kawah Cibuni-Rengganis

13 Oktober 2026

Mahasiswa Program Studi Teknologi Geologi Politeknik Energi dan Pertambangan (PEP) Bandung angkatan 2026 melaksanakan Praktikum Lapangan Mata Kuliah Praktikum Kimia Analitik di kawasan Kawah Cibuni-Rengganis, Kabupaten Bandung pada Sabtu 3 Oktober 2026. Kegiatan diikuti oleh 81 mahasiswa dan didampingi oleh empat dosen pembimbing praktikum. Praktikum didampingi oleh 4 dosen pembimbing diantaranya, Dr. Ir. Priatna, M.T., Sofyan Primulyana, M.T., Ir. Sabtanto Joko Suprapto, M.T., dan Dr. Ir. Adang Saputra, S.Si., S.T., M.Si. Kegiatan turut didukung oleh Putri Rindu Bunga Kasih, A.Md. sebagai fasilitator dan Elsha Riani Risana Christinawati sebagai tenaga kependidikan.

Praktikum ini dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam menghubungkan proses kimia, kondisi geologi, karakteristik fluida dan mineralisasi pada sistem panas bumi. Seluruh rangkaian pengamatan lapangan dikaitkan secara langsung dengan konsep dasar geologi "The Present is the Key to the Past" yang telah dipelajari dalam Mata Kuliah Geologi Dasar. Melalui fenomena geologi dan sistem panas bumi aktif yang diamati di masa kini, mahasiswa diajak memahami dan menginterpretasikan proses-proses geologi purba, khususnya mekanisme pembentukan endapan mineral (genesa mineralisasi).

Dalam praktikum tersebut, mahasiswa mempelajari dinamika sistem magmatik-hidrotermal dengan fokus pada zona steam-heated acid sulphate. Di zona ini, mahasiswa mengamati langsung proses kimia geotermal di mana gas hidrogen sulfida (H2S) yang naik dari kedalaman mengalami proses oksidasi di dekat permukaan menjadi asam sulfat (H2SO4). Pembentukan asam kuat ini memicu reaksi alterasi hidrotermal pada batuan samping serta memengaruhi perkembangan karakteristik sistem panas bumi secara keseluruhan.

Lebih lanjut, mahasiswa mempelajari keterkaitan erat antara sirkulasi sistem panas bumi dan proses mineralisasi logam. Fluida hidrotermal yang bergerak dan mengalami perubahan kondisi fisik-kimia (seperti penurunan tekanan dan suhu) dapat menyebabkan pengendapan emas (Au) serta logam berharga lainnya pada zona tertentu.

Kondisi tersebut dibuktikan melalui pemaparan data bawah permukaan di kawasan Kawah Cibuni-Rengganis. Kawah Cibuni yang berada pada elevasi permukaan sekitar 1.800 mdpl terhubung dengan sistem di kedalaman. Berdasarkan data pengeboran geotermal, pada elevasi sekitar 500 mdpl di bawah Kawah Cibuni-Rengganis, terjadi proses boiling (pendidihan) yang menjadi pemicu utama terendapkannya emas. Proses fisik-kimia tersebut juga berkaitan erat dengan terbentuknya reservoir panas bumi bertipe steam-dominated (didominasi uap).

Sebagai bagian utama dari praktikum kimia analitik, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pengambilan sampel geokimia di lapangan, di mana mahasiswa mempraktikkan teknik pengambilan, penyimpanan dan penanganan sampel gas serta air panas dari fumarol dan mata air secara ketat guna mencegah kontaminasi dan menjaga keterwakilan kondisi asli fluida. Selain itu, mahasiswa juga mempelajari teknik sampling isotop melalui metode kondensasi uap menjadi cairan untuk menganalisis rasio Oksigen-18 (18O dan Deuterium (2H) yang bertujuan menentukan asal-usul air panas bumi, apakah bersifat meteorik atau magmatik serta hubungannya dengan sumber panas dan aktivitas magmatisme.

Melalui pengalaman langsung ini, mahasiswa mampu menghubungkan interaksi antara kondisi geologi, proses kimia, karakteristik fluida dan pengendapan mineral dalam sistem panas bumi. Kegiatan ini menjadi sarana krusial untuk memperkuat kompetensi mahasiswa dalam melakukan pengamatan geologi dan sampling geokimia yang terstandar di lapangan. (FH)