Mahasiswa Program Studi Teknologi Metalurgi Politeknik Energi dan Pertambangan (PEP) Bandung telah berhasil menyelenggarakan seminar Pasca Ekskursi MetalSync 2026 (Metallurgy Synchronize) dengan mengusung tema “Peran Metalurgi dalam Mendukung Transisi Energi Hijau”. Kegiatan ini bertujuan memperluas wawasan mahasiswa mengenai kontribusi ilmu metalurgi dalam mendukung pengembangan energi bersih dan industri yang berkelanjutan.
Seminar menghadirkan dua narasumber, yaitu D.Sc. (Tech) Arif Tirto Aji, Head of Research and Development MIND ID yang memiliki pengalaman lebih dari 18 tahun di industri pengolahan logam dan mineral serta Zela Tamlega Ichlas dari Metallurgical Engineering Research Group, Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pada sesi pertama, Arif Tirto Aji menjelaskan bahwa transisi menuju energi hijau merupakan respons terhadap tantangan perubahan iklim dan tingginya emisi karbon akibat penggunaan energi fosil. Menurutnya, keberhasilan transisi energi tidak hanya bergantung pada pengembangan pembangkit energi terbarukan, tetapi juga pada ketersediaan material logam yang menjadi komponen utama berbagai teknologi energi bersih.
Panel surya, turbin angin, kendaraan listrik hingga sistem penyimpanan energi membutuhkan material strategis seperti litium, nikel, kobalt, tembaga, aluminium, silikon dan rare earth elements. Oleh karena itu, metallurgist memiliki peran penting dalam memastikan ketersediaan material melalui proses eksplorasi, ekstraksi, pemurnian, pengolahan hingga daur ulang logam. Indonesia juga dinilai memiliki peluang besar untuk mendukung rantai pasok global melalui potensi cadangan nikel dan mineral strategis lainnya.
Sesi kedua disampaikan oleh Zela T. Ichlas yang membahas perkembangan industri kendaraan listrik serta pentingnya teknologi recycling baterai lithium-ion. Meningkatnya penggunaan kendaraan listrik diperkirakan akan diikuti oleh bertambahnya jumlah baterai bekas, sehingga pengembangan teknologi daur ulang menjadi langkah penting dalam mendukung ekonomi sirkular sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penambangan bahan baku primer.
Dalam pemaparannya, dijelaskan tiga metode utama daur ulang baterai, yaitu direct physical recycling, hydrometallurgical recycling dan pyrometallurgical recycling. Selain itu, dipaparkan pula hasil penelitian mengenai proses pretreatment baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) yang menunjukkan bahwa proses pyrolysis pada temperatur sekitar 500–600°C mampu menghasilkan black mass secara optimal sehingga meningkatkan potensi recovery litium. Proses hidrometalurgi menggunakan larutan asam sulfat juga terbukti memberikan tingkat pelindian litium yang tinggi sebagai salah satu upaya meningkatkan efisiensi pemulihan material.
Melalui kegiatan Pasca Ekskursi MetalSync 2026, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai pentingnya peran ilmu metalurgi dalam mendukung transisi energi hijau, mulai dari penyediaan material kritis hingga pengembangan teknologi daur ulang yang berkelanjutan. Seminar ini diharapkan dapat memperkuat kompetensi mahasiswa sekaligus mempersiapkan lulusan yang mampu berkontribusi dalam pengembangan industri pertambangan dan metalurgi yang inovatif, berdaya saing serta mendukung terwujudnya pembangunan rendah karbon. (A)



