Mahasiswa Program Studi Teknologi Geologi Angkatan 2024 melaksanakan Praktikum Lapangan Geoteknik Tambang di wilayah Cipatat, Kabupaten Bandung Barat pada senin lalu 3 November 2025. Kegiatan ini merupakan bagian integral dari kurikulum yang bertujuan memberikan pemahaman praktis dan mendalam mengenai karakterisasi massa batuan di lapangan. Praktikum ini dibimbing oleh dosen pengampu dari matakuliah Geoteknik Tambang yaitu, Dr. Ir. Denny Lumban Raja, S.Kom., M.T., Wahyu Dwi Nurcahyo, M.T. dan Bagaraja Sirait, S.T., M.T. serta didukung juga oleh beberapa asisten mahasiswa angkatan 2023.
Kegiatan praktikum berfokus pada analisis kestabilan lereng dengan menggunakan Metode Scanline pada dimensi pengamatan spesifik 2 x 2 meter. Mahasiswa secara langsung melakukan serangkaian observasi dan pengukuran penting yang menjadi dasar dalam penilaian geoteknik tambang.
“Kegiatan ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis dalam menganalisis kestabilan lereng tambang, yang merupakan aspek krusial dalam keselamatan dan efisiensi operasi penambangan,” ujar salah satu dosen pembimbing.
Dalam pelaksanaan praktikum, mahasiswa mengumpulkan berbagai data kuantitatif dan kualitatif yang berkaitan dengan karakterisasi massa batuan. Pengukuran dilakukan untuk memprediksi kekuatan batuan menggunakan alat Schmidt Hammer guna memperoleh nilai pantulan yang berkorelasi dengan kekuatan batuan utuh. Selain itu, mahasiswa juga memperkirakan nilai RQD (Rock Quality Designation) berdasarkan perhitungan frekuensi kekar atau jumlah kekar per meter, yang menjadi indikator tingkat keretakan massa batuan. Selain itu, mahasiswa melakukan pengukuran orientasi (jurus dan kemiringan), spasi, kondisi permukaan serta kondisi pengisian (infilling) pada bidang-bidang diskontinuitas seperti kekar, sesar, dan bidang perlapisan, untuk mengetahui karakteristik diskontinuitas. Dan yang terakhir mahasiswa juga melakukan pengamatan terhadap kondisi air tanah di lereng, dimana faktor ini berperan penting dalam menurunkan kekuatan massa batuan.
Seluruh data observasi tersebut kemudian diolah untuk menghitung nilai RMR (Rock Mass Rating) dan SMR (Slope Mass Rating) pada lereng yang diamati. Nilai RMR digunakan untuk memberikan klasifikasi kualitas massa batuan secara ahli geoteknik tambang yang kompeten dan siap menghadapi tantangan di industri pertambangan. (FH)



