Bandung, 16 September 2025 – Pagi ini terasa berbeda di Taman SM TEKMIRA. Di bawah langit Bandung yang cerah dengan sinar matahari yang begitu hangat, mahasiswa baru PEP Bandung berkumpul dalam suasana hangat dan santai untuk mengikuti sesi Ngobras – Ngobrol Santai bareng Dosen Geologi dan Pertambangan Asep Rohman.
Acara yang menjadi bagian dari kegiatan Bintalsik ini tak hanya menghadirkan tawa dan canda, tapi juga kisah hidup yang menggugah hati. Duduk lesehan di taman dengan gaya khasnya yang santai namun penuh makna, Asep Rohman mulai membagikan cerita tentang perjalanan hidupnya – dari masa kecil hingga akhirnya menjadi dosen di bidang geologi dan pertambangan, yang diyakini tidak terlepas dari doa orang tua. Di awal sesi Asep juga mengajak mahasiswa untuk bersyukur karena dapat melanjutkan sekolah seraya meluruskan niat.
“Jangan pernah lupakan doa orang tua. Libatkan mereka di setiap langkah kalian,” ujar Asep kemudian sambil menatap para mahasiswa baru.
“Kalau orang tua sudah tiada, kalian akan benar-benar merasakan bahwa tidak ada doa yang lebih mujarab selain doa dari mereka.”
Kalimat itu membuat suasana sejenak hening. Beberapa mahasiswa terlihat termenung. Momen itu menjadi pengingat sederhana tapi mendalam, bahwa di balik setiap langkah kita, ada restu yang tak terlihat namun terasa: doa orang tua.
Mahasiswa Baru, Ambisi, dan Harapan
Tak hanya berbagi kisah, Asep juga mengajak salah satu mahasiswa baru untuk tampil di depan. Namanya Azizah dari Prodi Teknologi Pertambangan, gadis muda dari kota kecil di Kalimantan Selatan. Meski datang dari tempat yang jauh, Azizah punya semangat besar. Dengan kemampuan Bahasa Inggrisnya yang baik, azizah menyampaikan cerita hidupnya secara singkat dalam Bahasa Inggris dengan penuh percaya diri.
"In life, there must be ambition," said Azizah confidently.
"Don’t be afraid to dream, because ambition is the fuel that keeps you moving forward."
Asep Rohman mengangguk setuju, lalu menambahkan pesan untuk seluruh mahasiswa:
“Kalian masuk kampus ini bareng-bareng. Tapi saya tidak bilang kalian harus lulus bareng-bareng. Tetapkan target masing-masing. Mau lulus kapan? Tanamkan ambisi itu mulai dari sekarang.”
“Jangan bantu teman, fokuslah pada ambisi sendiri, kejar target sendiri. Tapi… apa iya kalian akan mau seperti itu?”Asep menambahkan yang dijawab serempak oleh mahasiswa dengan gelengan kepala mereka. Semoga ini menjadi pertanda bahwa mereka ingin saling bahu membahu menggapai cita. Obrolan yang awalnya santai berubah menjadi sesi penuh motivasi dan dibalut semangat dan harapan baru.
Penutup Hangat: Bubur Kacang Ijo dan Semangat Baru
Semangkuk bubur kacang ijo yang disajikan dengan toping sepotong roti tawar menjadi penutup Sesi Ngobras. Selasa ini makin hangat, senyum mahasiswa pun merekah. Bahagia itu sederhana, tapi memaknainya dengan penuh syukur menjadikan kesederhanaan menjadi sempurna.
Terima kasih Pak Asep untuk cerita hidup, inspirasinya dan tentu saja untuk bubur kacang ijonya!



