WhatsApp

Hi!

Menciptakan tenaga ahli yang unggul di bidang energi dan pertambangan melalui pendidikan vokasi yang terarah dan aplikatif

Information

Follow Us

Berita & Pembaruan

Kuliah Lapangan Prodi Teknologi Geologi Angkatan 2021 Daerah Bantarujeg Majalengka

25 Mei 2022

Senin hingga Rabu, 23-25 Mei 2022,  Prodi Tekonoloi Geologi melaksanakan kuliah lapangan (field trip) ke daerah Bantarujeg, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Kegiatan  ini diikuti oleh para mahasiswa Prodi T. Geologi Angkatan 21 sebanyak 32 orang dari total 33 orang (satu orang tidak ikut, karena sakit), didampingi oleh lima orang dosen dan satu orang tenaga didik (tendik). Kelima dosen pendamping itu adalah A. Djumarma Wirakusumah, Adang Saputra, Oman Abdurahman, Dadan Wildan, dan Fiati Nurmaya; dan tendik Icha Viozlia Ananda.

Perjalanan diawali dari kampus PEP Bandung pada pk. 06.30 WIB dengan dua kendaraan: satu buah bus membawa seluruh mahasiswa dan seorang dosen pendamping (pak Dadan); dan kendaraan kecil membawa dosen lainnya dan tendik. Sebelumnya, para mahasiswa sudah berkumpul sejak 05.30 WIB untuk mengikuti penjelasan singkat rencana perjalanan, informasi geologi umum lapangan, tata tertib selama kuliah lapangan, diakhiri dengan doa dan pembagian peralatan praktek lapangan. Rombongan sampai di tujuan, tempat menginap selama kuliah lapangan di Desa Cikidang, Kec. Bantarujeg, Kab. Majalengka, sekitar pukul 11.00 WIB.

Sesampaianya di tujuan, setelah ishoma, kegiatan kuliah lapangan hari pertama, Senin, 23 Mei 2022 dilakukan siang itu juga mulai pk. 14.00 WIB, dengan mengunjungi lokasi pertama di Sungai Cilutung, di sekitar jembatan jalan raya Bantarujeg – Cikidang, kl. 100 meter dari masjid agung Desa Cikidang. Sungai Cilutung dan cekungan yang dilaluinya secara fisiografi termasuk kedalam Zona Bogor yang tersusun oleh endapan laut dalam berumur Neogen. Batuannya termasuk ke dalam Formasi Halang, berumur Miosen Tengah - awal Miosen Akhir. 

Di Sungai Cilutung, kami mengamati batuan di dasar hingga dinding  sungai yang didominasi oleh batupasir dan batulempung. Endapan yang berada di sungai ini berarah barat-timur sedikit ke tenggara. Didalam batuan-batuan sedimen itu dapat diamati berbagai struktur sedimen seperti graded bedding, parallel lamination, cross-lamination, hingga convolute. Semua batuan sedimen itu menunjukkan lingkungan pengendapan laut dengan mekanisme arus turbidit pada sistem kipas bawah laut. Itulah catatan kuliah lapangan kami pada hari pertama, di daerah Bantarujeg, Majalengka. Pada malam harinya, kami langsung mengolah data dan mempresentasikan per kelompok bertempat di Balai Desa Cikidang dipimpin oleh seluruh dosen pembimbing kuliah lapangan.

Pada hari kedua. Selasa, 24 Mei 2022, dilaksanakan praktek lapangan untuk menggenapi kuliah praktikum petrologi, stratigrafi, dan geologi struktur dengan mengunjungi Sungai Cijurey yang berlokasi di Desa Cikidang, Kec. Bantarujeg, Kab. Majalengka. Kegiatan diawali pada pk 07.30 dengan seluruh mahasiswa berkumpul di halaman masjid Desa Cikidang untuk melakukan olah raga ringan (pemanasan) dan mengikuti briefing dari para dosen tentang rencana perjalanan pada hari kedua. Setelahacara tersebut, kami pun berangkat ke lokasi kegiatan  hari kedua dengan berjalan kaki menempuh jarak kurang lebih 2-3 km.

Setelah sampai di lokasi, seluruh mahasiswa diarahkan untuk mendeskripsi sebuah singkapan batuan beku intursi yang ada di tempat (in situ). Lalu dilanjutkan dengan turun ke Sungai Cijurey persis di bawah jembatan jalan raya Bantarujeg-Talaga di Kampung Cijurey untuk melakukan pengambilan data batuan beku intrusi yang ada di lokasi tersebut, dilanjutkan dengan praktek MS (measuring section) sepajang sekitar satu kilometer (km). Untuk itu, para mahasiswa dibagi menjadi enam kelompok dimana kelompok genap (2, 4, 6) melakukan MS sepanjang 1 km lintasan ke arah hulu sungai, sedangkan kelompok ganjil (1,3,5) melakukan MS sepanjang 1 km lintasan kea rah hilir sungai dari lokasi di bawah jembatan tsb. 

Di sungai Cijurey, sepanjang lintasan MS, kami melakukan plotting lokasi area, dan pengambilan data dengan cara mendeskripsikan batuan yang kami temui. Untuk pengukuran panjang lintasan, panjang dan tebal lapisan batuan kami menggunakan meteran dan kompas. Di sepanjang lintasan pada beberapa titik, kami juga mengukur slope, azimuth, strike and dip, dan ketebalan lapisan batuan.
Di sepanjang lintasan Sungai Cijurey tersebut kami menemukan banyak sekali singkapan batuan perselingan batupasir, lempung, dan breksi, banyak juga bermacam-macam struktur sedimen pada batuan tersebut. Sebagaimana pada hari pertama, di malam hari kedua, kamipun langsung mengolah data dan mempresentasikan per kelompok, dan menyelesaikan laporan kegiatan lapangan dengan format yang telah ditentukan bertempat di Balai Desa Cikidang dipimpin oleh seluruh dosen pembimbing kuliah lapangan.

Pada hari ketiga, Rabu, 25 Mei 2022, kegiatan difokuskan untuk mengamati singkapan intrusi batuan beku. Lokasinya di Gunung Buligir, di Desa Silih Wangi, Kec. Bantarujeg, Kab. Majalengka yang telah disurvei sebelumnya oleh para dosen pembimbing. Jaraknya sekitar sepuluh kilometer dari tempat kami menginap di Desa Cikidang. Kegiatan ini diawali sekitar pk 08.30 WIB dari depan penginapan dengan briefing dari para doseng kemudian menuju lokasi dengan dua kendaraan colt back dan satu kendaraan sedang. 
Setelah sampai di lokasi kuliah lapangan hari ketiga, seluruh mahasiswa diarahkan untuk mendeskripsi sebuah singkapan batuan beku yang ada di tepi jalan raya, yaitu sebuah bukit batu yang sedang ditambang. Bukit batu ini belum termasuk Gunung Buoligir, namun diperkirakan masih satu rangkaian kejadian. Di lokasi ini kami melakukan pengambilan data berupa plotting lokasi, deskripsi batuan yang ada. Tubuh batuan yang sedang ditambang ini tersusun oleh batuan andesit dengan banyak sekali fenomena xenolith di permukaannya. 

Dari lokasi pertama ini, kemudian kami bergerak ke kaki Gunung Buligir, sekitar 2 km jaraknya dari kea rah barat. Di sini kami pun melakukan pengambilan data seperti pada lokasi pertama dan berdiskusi dengan para dosen tentang ciri dan pembentukan batuan beku intrusi serta pemanfaatannya, khususnya batuann beku jenis andesit yang merupakan bagian dari geologi eknomi. 

Dari lokasi kaki Gunung Buligir, kami kemudian menuju ke puncaknya, dengan berkendaraan ke arah pulang, belok ke kiri di sekitar masjid di tepi jalan. Terdapat akses jalan yang dapat dilalui mobol hingga ke tempat parkir yang dapat diisi sekitar tiga buah kendaraan di kaki Gunung Buligir yang berjarak vertikal sekikara 50 meter dari puncak. Dari tempat parkir tersebut kami pun mendaku ke puncak  Gunung Buligir melalui jalan setapak sejauh kl. 150 meter dengan kondisi jalan mendaki. Sesampainya di puncak, kami menikmai pemandangan indah yang tampak hingga ke puncak Gunung Tampomas dan Gunung Ciremai di kejauhan.  Setelah kegiatan lapangan hari ketiga selesai, sesuai jadual, siang hari sekitar pk 14.00, kami kembali ke kampus PEP Bandung.***

Penulis Berita: M. Abil Wiranto, Nadya Finlandini, M. Aryadewo
Editor: Oman Abdurahman


On May, 23-25, first year students of the Department of Geological Technology had a fieldtrip to Bantarujeg, Majalengka Regency. Thirty two students from batch 2021 participated in this event, with one student was reported sick. The students were supervised by five lecturers and one academic official: A. Djumarna Wirakusumah, Adang Saputra, Oman Abdurahman, Dadan Wildan, Fiati Nurmaya, and Icha Viozlia Ananda.

The trip started as early as 5.30 AM at PEP Bandung campus. All participants came to the campus, and the students were briefed about the itinerary, general geological information of the field, rules in the trip, and distribution of field equipments. After praying, the group departed Bantarujeg at 6.30 AM on two vehicles: one bus with all the students along with one lecturer, Dadan WIldan, and one car filled with the rest of the lecturers. The whole group arrived at the destination, Cikidang Village at Bantarujeg District of Majalengka Regency at around 11 AM.

After a short lunch break, the first activity immediately took place by visiting the Cilutung river around the bridge connecting Bantarujeg and Cikidang. The area was only 100 meters away from the grand mosque of Cikidang. The CIlutung and the basin it flows through are physiograhically belong to the Bogor Zone which are made of Neogen marine sediment. The rocks are of Halang formation from the age of Mid Miocene – early Last Miocene.

In the Cilitung, the bottom is dominated by sandstone and clay stone. The sediment in this river is stretched from west – east with a little to the south-east. In the sediments, various structures can be observed such as: graded bedding, parallel lamination, cross-lamination, and convolute. All the sediment rocks shows an environment of marine sedimentation with turbidite flow mechanism on submarine fan. At the first night of the trip, all data were processed and presented to all lecturers at Cikidang Village Hall.

On the second day of the trip, Tuesday May 24th, several practicum sessions were held which covered the topics of petrology, stratigraphy, and structural geology. The activities on the second day took place in Cijurey river. The day started at 7.30 AM. All participants gathered at the Cikidang mosque’s yard. After some light exercise, students were briefed about the itinerary for that day. Soon after, the group departed to the practicum site on foot. The walk took them 2-3 hours.

At the destination, students were instructed to describe an outcrop of intrusive igneous rock in situ. After that, the group moved on to the Cijurey which flows right under the bridge between Bantarujeg – Talaga. At the river banks, data of intrusive igneous rocks were taken, followed by a practice of Measuring Section for 1 km long. For this purpose, students were divided into six groups. Three groups would do Measuring Section 1km up-stream, while the other three would do Measuring Section 1km down-stream.

Along the MS tracking the Cijurey, students performed area plotting and data gathering. Data is in the form of description of rocks found along the way. Instruments used for measurements of track ‘s length and rock’s dimensions were compass and roll meter. At several points along the these parameters were also measured: slope, azimuth, strike and dip, and thickness of rock layer.

Along the Cijurey, a lot of outcrops were observed. These outcrops were mix of sandstone, clay stone, and breccias. A lot of sedimentations were also observed. Similar to the previous night, the second day were concluded in sessions of data crunching and group presentation at night.

On the third day, Wednesday May 25th, the activity was focused on the observation of outcrops of intrusive igneous rocks. The activity took place at Mount Buligir in Silih Wangi village, which was 10 km away from where they stayed. The mountain had been surveyed by the lecturers. The day started at 8.30 AM by short briefing before the group moved to Mount Buligir in two separate vehicles. 

As the group reached the site, all students were instructed to describe an igneous outcrop at the side of the road. This outcrop was a hill being undermined. This stony hill was not part of Mount Buligir. However it was said to be from the same chain of events. At this spot, area was plotted and stones were described. Rocks in this hill were made up of andesite with a lot of xenoliths on its surface.

From the base of Mount Buligir, the group reached the top by cars. The route to the top was accessible to cars and just near the top, there was a parking spot which could hold three cars. From the parking area, the group hiked a 150-meter footpath to the mountain top. Breathtaking scenery greeted the group on the peak of Buligir, adorned with the Tampomas and the Ciremai on the horizon. After all the activities on the third day were completed, at around 2 PM, the whole group returned to PEP Bandung campus.

Writers: M. Abil Wiranto, Nadya Finlandini, M. Aryadewo.
Editor: Oman Abdurahman