Pada hari Senin, 21 November 2022, Prodi Tekonoloi Geologi melaksanakan kuliah lapangan/ praktikum lapangan (field trip) ke daerah/ kawasan Karst Citatah, Desa Gunungmasigit, Kec. Cipatat, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat. Kegiatan ini pesertanya adalah para mahasiswa Prodi Teknologi Geologi PEP Bandung Angkatan 2022 (TG 2022) sebanyak 27 orang dari total 28 orang mahasiswa Angkatan tsb (satu orang tidak ikut karena sakit). Praktikum lapangan tersebut didampingi oleh empay orang dosen dan satu orang tenaga didik (tendik). Keempat dosen pendamping itu adalah: A. Djumarma Wirakusumah, Oman Abdurahman, Dadan Wildan, dan Denny Lumban Raja; dan tendik Icha Viozlia Ananda.
Perjalanan diawali dari kampus PEP Bandung pada pk. 07.30 WIB dengan satu kendaraan, yaitu bus, menuju Statsiun Pengamatan 1 (St. 1). yaitu Kampus Lapangan PPSDM Geominerba, pada koordinat 107° 26' 40,5" E BT dan 6° 50' 6,04" S, elevasi 843,30 m.dpl. Sesampainya di St.1, para mahasiswa di-briefing sebentar tentang prinsip geomoforlogi, dan diberi tugas pengamatan di titik St. 1. Para mahasiswa pun langsung melakukan praktek orientasi di lapangan, mencatat koordinat site; pengamatan bentang alam karst dan perbedannya dengan bentang alam gunungapi di latar belakang, dan deskripsi batuan yang dijumpai, sekitar 30 menit. Setelah selesai, rombongan kemudian bergerak ke St. 2, Sungai Cibogo.
Statisun (ST.2) kedua yang dikunjungi adalah segmen aliran Sungai Cibogo. Lokasinya persis di sebelah kiri jembatan jalan dengan beloka dari tepi timur SPBU Pertamina 34.405.23 Citatah, kl 200 meter dari SPBU tersebut. Site pengamatan berada pada segmen sungai sepanjang kl 100 meter alur sungai mulai dari dekat jembatan sampai dengan air terjun Cibogo. Secara geografis, lokasi ini terletak pada koordinat 107° 24' 50,02" BT dan 6° 49' 53,33" LS, elevasi 515 m.dpl. Di St. 2 ini para mahasiswa mengamati batuan sedimen dan batuan beku, praktek pengukuran jurus dan kemiringan, kontak antara batuan sedimen dan batuan beku, dll.
Lembah Cibukur (St. 3) terletak di depan Gua Pawon, selebar kl 750 meter jika dihitung dari depan Gua Pawon sampai dengan lokasi calon Gua Pawon (St.4), di sebelah Homestay Gua Pawon. Aksesnya dicapai dari halaman parkir Gua Pawon dengan berjalan kaki, melewati Lembah Cibukur sepanjang kl 1 km dengan kondisi jalan nain turun dan dilalui oleh sebuah sungai, pesawahan dan beberapa rumah penduduk. Pemandangan dari lembah ini ke belakang (selatan) memperlihatkan fitur Gunung Masigit di ujung barat perbukitan (pasir) Pawon dan Pasir Pawon itu sendiri yang di kakinya tampak mulut utama dan jendela-jendela di Gua Pawon, yang sangat indah dan cocok sebagai lokasi pengamatan bentang alam. Museum Gua Pawon itu sendiri memang direncanakan akan dibangun di sana di sebelah Homestay Gua Pawon milik keluarga bu Yetty, penduduk setempat, sebagai tempat menyimpan semua temuan fosil manusia Purba dari Gua Pawon.
Lokasi terakhir, Gua Pawon, terletak pada batugamping bukit Pasir Pawon di Kampung Pawon, Desa Gunungmasigit, Kec. Cipatat, pada 107°26'13,26" BT dan 6°49'22,51" LS dan elevasi 596 m.dpl. Lokasi ini relatif sudah tertata sebagai destinasi wisata kepurbakalaan dan merupakan salah satu geosite penting dalam Masterplan Pengembangan Geopark Rajamandala. Di sini para mahasiswa TG22 melakukan pengamatan proses pembentukan gua. Gua Pawon merupakan temuan yang luar biasa, sebab gua ini ternyata merupakan hunian manusia purba. Sebanyak tujuh fosil manusia purba sudah ditemukan dari sana sejak 2003-kini, dari kedalaman 1 – 2,5 m, dengan rentang umur dari 5.000 tahun yang lalu (tyl) - 12.000 tyl, dan posisi mayat (fosil) membungkuk. Dengan demikian, Gua Pawon menjadi begitu tinggi nilainya dan sangat potensial sebagai warisan geologi kelas dunia.
Demikian, praktik lapangan kuliah geomorfologi dan geologi dasar ini telah dilakukan dengan efektif dimana lokasi-lokasi yang dikunjungi dapat menjadi sarana praktikum lapangan dimaksud. Di Gua Pawon praktek lapangan diakhiri dengan pemberian tugasa, dan kembali ke Bandung dengan kendaraan bus.
Penulis Berita: Oman Abdurahman



