Cinambo dan Longsor di Laut Dalam Jutaan Tahun Silam

07 Desember 2023 by Admin PEP Bandung

Kami beruntung. Dengan dibuatnya jalan baru, jalan Lingkar Timur Waduk Jatigede yang menjadi lanjutan jalan Tomo-Jatigede via Marongge, beberapa batuan penting tersingkap di tepi jalan dan dapat diamati dengan mudah. Salah satunya adalah endapan turbidit, yang terdapat di posisi – yang kami sebut – SP3, sekitar 5 km dari Mesjid Al Kamil, ke arah Wado, yang termasuk wilayah geologi Cinambo. Lokasi SP3 inilah yang kemarin, Kamis, 07 Desember 2023, pada acara praktek lapangan menjadi bahan diskusi yang menarik antara para mahasiswa dan para dosen.

Praktek lapangan tersebut merupakan rangkaian akhir dari matakuliah (MK) Geologi Dasar dan MK Geologi Terapan semester 1 Tahun Akademik 2023/2024 PEP Bandung. Pesertanya adalah para mahasiswa Teknik Geologi Angkatan 2023 PEP Bandung sebanyak 43 orang; tujuh para dosen dan seorang fasilitator sebagai pembimbing dari kampus vokasi program geologi, tambang dan metalurgi di bawah Kementerian ESDM itu. Para pembing itu adalah: Denny Lumban Raja,  Adang Saputra, Oman Abdurahman, Dadan Wildan,  A.D Wirakusumah, Sulistiyono, Akhmad Zaennudin (dosen), dan Murni Sulastri  (fasilitator).

Turbidit, sejenis batuan sedimen laut dalam, terjadi melalui mekanisme longsoran. Di dasar laut, seperti di daratan, permukaan tidaklah rata; ada dataran, landaian, hingga tebing yang curam. Endapan turbidit terjadi pada lereng curam yang berakhir  di ujung lereng dasar laut itu; yang dapat terjadi di laut masa kini, juga di masa silam. Turbidit yang sudah menjadi daratan seperti yang sekarang tampak di SP3, tentu saja, terjadi pada jutaan tahun yang silam. Endapan turbidit dapat bermakna eknomi tinggi karena kemungkinannya sebagai tempat pembentukan dan sekaligus resorvoar migas di alam.

Sebelumnya, agenda praktikum lapangan tersebut mengunjungi area “Pasir Cinta” atau “Bukit Cinta” dan sekitaran Kompleks Mesjid Al Kamil di pinggiran waduk besar itu (SP1 dan SP2). Ini adalah area yang termasuk puncak di tepian waduk Jatigede sebelah timur. Inilah salah satu lokasi yang ideal untuk menjelaskan bentuk-bentuk bentang alam dan proses-proses yang terjadi yang membentuknya, dan pemanfaatannya oleh manusia. Salah satunya, ya bendungan Jatigede yang membentang di hadapan Bukit Cinta ke arah barat. Jelas, bendungan ini memanfaatkan geomorfologi kawasan lembah Sungai Cimanuk, dari Jatigede, Cipaku, hingga Wado; untuk mencegah banjir  di daerah hilirnya, dan banyak manfaat lainnya.

Setelah istirahat siang, agenda selanjutnya adalah kunjungan ke  area jembatan Cimanuk di depan outlet bendungan Jatigede, termasuk sesegmen dasar sungai sekitar 50 meter ke arah hilir dari jembatan tersebut. Dasar Ci Manuk dapat dikunjungi karena airnya sedang surut akibat kemarau panjang. Di area yang kami sebut sebagai SP4 ini dapat diamati tebing sungai yang curam yang merupakan indikasi sesar besar, jarak antara dua tebing kiri-kanan sungai yang cukup sempit, dan endapan breksi laharik dengan ukuran fragmen yang sangat bervariasi.

Diskusi di area ini diawali dengan pertanyaan dari mana asal-usul endapan breksi laharik tersebut. Sebuah diskusi yang sangat penting karena di wilayah kita, terutama di P Jawa, adalah daerah gunungapi sejak jutaan tahun silam hingga kini. Gunungapi apa gerangan yang laharnya sampai ke dasar Ci manuk tersebut? Panjangnya diskusi sampai menyentuh aspek-aspek endapan sedimen tua, bahkan hingga formasi-formasi yang secara eknomi penting, seperti Formasi Jatibarang salah satu sumber migas kita, yang bersumber dari batuan volkanik. Namun demikian, perrtanyaan itu tetap belum terjawab secara pasti hingga akhir kunjungan di SP4.

Menjelang akhir sesi SP4, terjadi lagi diskusi seru terutama diantara para dosen, yang terpicu oleh pertanyaan, k.l: “mengapa poros bendungannya tidak di lembah sungai yang sangat sempit ini?” Diskusi ini membawa kenangan kami kepada riwayat berdirinya bendungan Jatigede. Singkat kata, kemampuan teknologi manusia dan kebaranian para insinyur bendungan, telah sampai pada keputusan untuk membangun tubuh bendungan di posisi yang sekarang, walau daerah Jatigede ini  – menurut kacamata para geologiwan – tidak lepas dari efek sebuah sesar besar. Salah satunya mungkin karena di lokasi SP4 ini pengaruh sesar itu dianggap masih terlalu kuat; atau, batuannya terlalu porus sehingga berisiko menyebabkan bendungan bocor. Adapun muka air waduk kini tampak surut, sebagaimana terjadi setiap musim kemarau, itu persoalan lain. Satu hal sudah sangat jelas. Bahwa kawasan Jatigede, Sumedang, sangat memadai sebagai lokasi praktek lapangan bidang geologi, khususnya geologi dasar, geomorfologi, dan sedimentologi.*** (penulis: Oman Abdurahman).

Whatsapp